Selasa, 14 April 2015

BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA BUNGA KRISAN


KRISAN

A.  PENDAHULUAN
Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. Morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East.

Tanaman krisan termasuk dalam tanaman hari pendek (16 jam siang), yang berasal dari daerah sub tropis. Menurut penggunaannya krisan dapat dikelompokkan: krisan sebagai bunga potong dan krisan bunga pot/ pot plant, sedangkan menurut tipenya krisan dapat digolongkan sebagai krisan standard dan krisan sprey.

 Indonesia termasuk negara beriklim tropis, dimana panjang hari siangnya selama 12 jam, sedangkan daerah sub tropis panjang hari siangnya selama 16 jam. Untuk membudidayakan bunga krisan di Indonesia, diperlukan penambahan cahaya, sebanyak 70 lux selama 4 jam pada malam hari. Tujuan penambahan cahaya adalah untuk mempertahankan fase vegetatif tanaman.
Tanaman Krisan dengan nama Internasional Chrysanthemum atau disebut mum, terdiri dari banyak specis. Dari banyaknya species inilah kemudian mulai dikembangkan/ disilangkan oleh para pemulia, sehingga menghasilkan banyak cultivar yang baru dan hibrida. Dalam penggunaannya krisan di kategorikan dalam tiga jenis, yaitu: cut mum (krisan potong), pot mum (krisan pot), dan garden mum (krisan kebun).
      

B. LINGKUNGAN TUMBUH TANAMAN
Krisan umumnya dibudidayakan dan tumbuh baik di dataran medium sampai tinggi pada kisaran 650 hingga 1.200 m dpl. Di habitat aslinya, krisan merupakan tanaman yang bersifat menyemak dan dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 30– 200 cm. Berdasarkan siklus hidupnya, krisan dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu krisan semusim (hardy annual) dan krisan tahunan (hardy perennial). Tanaman krisan yang dibudidayakan saat ini merupakan krisan modern hasil hibridisasi, seleksi dan rekayasa genetik yang telah dilakukan para pemulia krisan. Media tanam krisan yang baik di tanah bertekstur liat berpasir, dengan kerapatan jenis 0,2 - 0,8 g/cm3 (berat kering), total porositas 50–75%, kandungan air 50-70%, kandungan udara dalam pori 10–20%, kandungan garam terlarut 1–1,25 dS/m2 dan kisaran pH sekitar 5,5 – 6,5. Kondisi ini dapat dicapai dengan memodifikasi media tumbuh dalam bedengan.

Tanaman krisan membutuhkan panjang hari tertentu untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatifnya. Panjang hari yang dibutuhkan untuk fase vegetatif adalah lebih dari batas kritisnya (13,5–16 jam). Untuk fase vegetatif pada budidaya krisan, pemberian cahaya tambahan dengan menggunakan lampu pada malam hari mutlak diperlukan. Intensitas cahaya lampu untuk tanaman krisan pada malam hari berkisar antara 40–100 lux, setara dengan lampu pijar 75– 100 watt atau esensial 18-23 watt dengan jarak antar titik lampu 2x2 m dan dengan ketinggian 1,5–2 meter di atas permukaan bedengan. Durasi pemberian cahaya tambahan sekitar 4-5 jam per malam mulai pukul 22.00–02.00. Untuk menghemat energi listrik, pencahayaan dapat diatur secara siklik dengan 10 menit hidup dan 20 menit mati dalam rentang waktu 4-5 jam dengan menggunakan pewaktu atau timer. Pemasanagan instalasi cahaya tambahan tersebut sebaiknya dilakukan sebelum pengolahanan tanah.
C.   TEKNIK PERBANYAKAN TANAMAN
1) Kultur jaringan
Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk merangsang jaringan-jaringan biji (generatif), serta jaringan-jaringan batang, daun, tunas, dan akar (vegetatif) dengan menempatkan jaringan-jaringan tersebut dalam media semai khusus yang berupa padatan atau cairan yang sudah disterilkan sehingga terbebas dari mikroorganisme. Kultur jaringan lebih efektif digunakan untuk pembibitan vegetatif. Adapun tahapan-tahapan untuk mendapatkan bibit bunga krisan dengan menggunakan kultur jaringan, antara lain.

a) Menyeleksi induk krisan
Pertama menyeleksi induk krisan agar mendapatkan induk yang berkualitas, sehingga bibit yang dihasilkan berkualitas pula. Ciri­ induk krisan yang berkualitas adalah pertumbuhan bunganya cepat, memiliki produktivitas bunga yang cukup tinggi, tidak terserang hama dan penyakit (dalam kondisi sehat), serta memiliki banyak mata tunas.

b) Pengambilan mata tunas
Proses selanjutnya potong mata tunas dengan suet yang steril, kemudian mata tunas tersebut direndam selama 10 menit dalam Sublimat 0,04 % HgCL. Jika telah selesai, bilas mata tunas tersebut dengan air suling yang steril.

c) Eksplan (penempatan mata tunas) pada medium padat
Sebelum mata tunas ditempatkan pada medium, perlu adanya persiapan untuk membuat medium tersebut. Medium yang diperlukan adalah medium MS padat yang dicampurkan dengan 150 ml air kelapa per liter, 1,5 mg kinetin per liter, dan 0,5 mg NAA per liter di dalam sebuah wadah yang steril, biasanya wadah yang digunakan adalah botol. Setelah medium dibuat, kemudian masukan mata tunas tadi ke dalam medium tersebut (botol). Mata tunas mulai berakar setelah 26 hari ditempatkan di medium dan mulai tumbuh tunas setelah 3 hari tumbuh akar.

d) Penyemaian bibit
Proses selanjutnya bibit dipindahkan di medium penyemaian yang berupa pasir yang sudah steril (setelah mata tunas sudah berakar dan bertunas di dalam medium), dengan kedalaman tanam disesuaikan dengan ukuran bibit. Setelah ditanam, kemudian ditutup dengan plastik bening agar mendapatkan cahaya lampu dan tempatkan di tempat yang terbebas dari mikroorganisme (aseptik). Buka penutup plastik bening pada sore dan ma’am hari sekitar 1-2 hari sebelum bibit dipindahkan ke kebun.

e) Penanaman bibit di kebun
Bibit krisan dapat dipindahkan di kebun ketika sudah tumbuh dengan ketinggian kurang Iebih 9 cm dan memiliki daun sebanyak kurang Iebih helai.

2) Stek pucuk
Stek adalah suatu usaha untuk menghasilkan bibit dengan cara melakukan pemotongan pada salah satu bagian dari tanaman induk, seperti batang, pucuk, cabang, atau akar, yang kemudian bagian yang dipotong akan disemaikan/ditanam di media semai agar tumbuh akar. Stek pucuk adalah stek yang dilakukan dengan mengambil pucuk tanaman induknya. Adapun tahapan untuk melakukan stek pucuk pada krisan, antara lain:


a) Menyeleksi tanaman krisan sebagai induk
Langkah pertama dalam melakukan stek adalah dengan menyeleksi tanaman krisan untuk dijadikan induk. Dengan mendapatkan induk yang berkualitas, akan menghasilkan bibit yang berkualitas pula. Ciri-ciri induk krisan yang berkualitas adalah pertumbuhan bunganya cepat, memiliki produktivitas bunga yang cukup tinggi, serta tidak terserang hama dan penyakit (dalam kondisi sehat).

b) Menyeleksi pucuk sebagai bibit
Setelah mendapatkan induk yang berkualitas, Iangkah selanjutnya adalah menyeleksi pucuk dari induk tersebut untuk dijadikan bibit krisan. Adapun pucuk yang baik untuk dijadikan bibit krisan adalah memiliki kurang Iebih 4 helai daun yang sudah dewasa dengan warna hijau cerah dan memiliki diameter pangkalnya kurang Iebih 4 mm.

c) Memotong pucuk
Setelah menemukan pucuk yang baik untuk dijadikan bibit, kemudian potong pucuk tersebut dengan menggunakan silet atau pisau yang steril dan tajam, dengan ukuran panjang pucuk yang dipotong kurang Iebih 7 cm. Setelah dipotong, cabut sebagian atau seluruh daun yang berada pada pucuk tersebut. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengurangi penguapan yang berlebihan. Setelah itu, pucuk yang ingin dijadikan akar direndam dalam larutan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh)/Rotoon selama kurang Iebih 5 menit. Larutan ZPT berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan akar.

d) Penyemaian pucuk stek
Setelah pucuk stek dipotong dan direndam dalam larutan ZPT (Rotoon),selanjutnya pucuk stek tersebut disemai. Sebelumnya, perlu menyiapkan media semai berupa pasir yang sudah steril. Media semai tersebut dimasukkan ke dalam pot atau polybag yang bagian bawahnya dilubangi untuk menghindari jumlah air yang berlebihan, yang dapat mengakibatkan pucuk stek menjadi busuk. Setelah media semai dibuat, selanjutnya tanam pucuk stek dengan cara menancapkannya ke dalam media semai tersebut dengan kedalaman sekitar sepertiga dari panjang pucuk stek. setelah itu, tutup dengan plastik bening dan tempatkan di dalam ruangan. Gunakan lampu untuk membantu proses pertumbuhannya dan lakukan perawatan dengan melakukan penyiraman menggunakan sprayer air sebanyak 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Apabila ada hama atau penyakit maka lakukan penyemprotan dengan mengunakan pestisida.

e) Pemindahan bibit ke kebun
Bibit krisan dapat dipindahkan dari tempat penyemaian ke kebun untuk ditanam hingga berbunga kurang lebih 13 hari setelah semai.

D.    TEKNIK PENANAMAN

1.    Pemilihan bibit dan varietas.
Bibit yang berkualitas yaitu bibit dengan kemurnian genetik tinggi, sehat (bebas patogen  terutama penyakit sistemik), tidak mengalami gangguan fisiologis, mempunyai daya tumbuh kuat dan memiliki nilai komersial di pasaran.
Pilihlah bibit dan varietas yang baik, yaitu varietas yang tidak menunjuklian gejala degeneratif, produktif dan adaptif di daerah tropik. Selain itu perlu diperhatikan pula ketahanannya terhadap patogen. 

2.    Penyiapan Media Tumbuh 
Media tumbuh perakaran stek
 Agar pertumbuhan akar stek tidak terhambat, pilihlah media untuk perakaran stek yang mempunyai sifat menahan air yang tinggi, antara lain : arang sekam, sekam, atau pasir. Sterilkan dengan uap panas 800c selama 4 jam dan kering anginkan selama 2 hari. Letakkan media tersebut pada bak-bak pengakaran yang lebamya 80 cm dan ratakan. Kemudian basahilah dengan air atau gunakan larutan pestisida dosis rendah untuk mencegah serangan penyakit pada stek selama proses pengakaran. Ambil pucuk tunas aksiler dari tanaman induk yang sehat dan tumbuh optimal serta mempunyai 5 - 7 daun sempurna. Agar kualitas stek yang dihasilkan terjaga, pengambilan stek sebaiknya dari tanaman induk untuk produksi stek bukan tanaman produksi bunga. Potong tunas tersebut dengan menggunakan pisau yang steril. Sisakan 2 - 3 daun pada batang tanaman induk. Kemudian letakkan pada wadah, semprot dengan larutan fungisida dan bakterisida. - Celupkan pangkal tangkai stek pucuk tersebut pada zat pengatur tumbuh, tancapkan pada media pengakaran stek. Setelah +14 hari, cabutlah stek pucuk tersebut secara perlahan-lahan supaya akar tidak rusak dan stek pucuk siap ditanam dirumah lindung. 

Media pertumbuhan pada bedengan
Buatlah bedengan dengan menggunakan cangkul sedalam 30 cm hingga gembur. Kering-anginkan selama 7 hari. Biarkan kering, jangan diberi air atau terbasahi, untuk mencegah berkembangnya gulma dan hama penyakit. Setelah 7 hari dikering-nginkan, gemburkan tanah untuk yang kedua kalinya, sambil membersihkan sisa gulma yang masih tumbuh. Bentuk bedengan setinggi 25 - 30 cm dan lebar satu meter dengan jarak antara bedengan 35 cm, panjang disesuaikan densankondisi lahan. Taburkan pupuk kandang yang sudah matang dengan dosis 3 ton/tra. Bersamaan dengan itu, berikan pupuk dasar yang terdiri dari campuran Urea 200 kg/ha + KCl 350 kg/ha + SP-36 300 kg/ha, aduk merata. Sterilisasi bedengan dengan menggunakan Basamid sesuai dosis anjuran dan tutup dengan penutup kedap udara selama 18 - 21 hari. Setelah l8 - 21 hari, penutup bedengan dibuka dan diolah ringan untuk menghilangkan efek Basamid yang ada pada bedengan. Pada tanah-tanah yang memiliki tingkat kemasaman tinggi hingga dibawah pH 5,5 perlu ditambahkan kapur pertanian untuk memperbaiki pH tanah. Sumber kapur dapat berupa dolomite (kapur tohore). Dosis pemberian kapur disesuaikan dengan kemasaman tanah. Pemberian kapur dilakukan dengan menamburkan kapur pada permukaan media bedengan dan diaduk ringan. Selanjutnya, 1 hingga 2 hari sebelum tanam, bedengan diberi air hingga kapasitas lapang dan dipasang jaring penegak tanaman yang sesuai dan dibuat lobang tanam sesuai jarak tanam.
Pengapuran
Tanah yang mempunyai pH > 5,5, perlu diberi pengapuran berupa kapur pertanian misalnya dengan dolomit, kalsit, zeagro. Dosis tergantung pH tanah. Kebutuhan dolomit pada pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada permukaan bedengan.

3.    Penanaman
Teknik Penanaman Bunga Potong
a)    Penentuan Pola Tanam. : Tanaman bunga krisan merupakan tanaman yangdapat dibudidayakan secara monokultur.
b)    Pembuatan Lubang Tanam : Jarak lubang tanam 10 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm. Lubang tanam dengan cara ditugal. Penanaman biasanya disesuaikan dengan waktu panen yaitu pada hari-hari besar. Waktu tanam yg baik antara pagi atau sore hari.
c)    Pupuk Dasar : Furadan 3G sebanyak 6-10 butir perlubang. Campuran pupuk ZA 75 gram ditambah TSP 75 gram ditambah KCl 25gram (3:3:1)/m2 luas tanam, diberikan merata pada tanah sambil diaduk.
d)    Cara Penanaman : Ambil bibit satu per satu dari wadah penampungan bibit, urug dengan tanah tipis agar perakaran bibit krisan tidak terkena langsung dengan furadan 3G. Tanamkan bibit krisan satu per satu pada lubang yg telah disiapkan sedalam 1-2 cm, sambil memadatkan tanah pelan-pelan dekat pangkal batang bibit. Setelah penanaman siram dengan air & pasang naungan sementara dari sungkup plastik transparan.

Teknik Penanaman untuk Memperpendek Batang 
Penanaman dilakukan sama dengan utk bunga potong biasa, tetapi dengan menambah cahaya agar tangkai menjadi pendek.
a)    Pengaturan & Penambahan Cahaya : Dilakukan sampai batas tertentu dengan ketinggian tanaman yg dinginkan. Misalnya, bila diinginkan bunga krisan bertangkai 70 cm, maka penambahan cahaya sejak ketinggian 50-60 cm. Lampu dimatikan. Periode berikutnya beralih ke generatif. Tangkai bunga memanjang mencapai 80 cm. Bila dipanen tangkainya 70 cm, maka tangkai bunga yg tersisa adalah 10 cm pada tanaman. Total lama penyinaran sejak bibit ditanam sampai periode generatif antara 12-15 minggu tergantung varietas krisan. Cara pengaturan & penambahan cahaya yaitu dengan pola byarpet, yaitu pencahayaan malam selama 5 menit lalu dimatikan selama 1 menit dilakukan secara berulang-ulang hingga mencapai 30 menit. Cara lain pengaturan & penambahan cahaya adalah dengan memasang lampu TL pada tengah malam mulai pukul 22.30-01.00.
b)    Pemupukan : Waktu pemupukan dimulai umur 1 bulan setelah tanam, kemudian diulang kontinue & periodik seminggu sekali, & akhirnya sebulan sekali. Jenis & dosis pupuk yg diberikan pada fase vegetatif yaitu Urea 200 gram ditambah ZA 200 gram ditambah KNO3 100 gram per m 2 luas lahan. Pada fase Generatif digunakan pupuk Urea 10 gram ditambah TSP 10 gram ditambah KNO3 25 gram per m 2 luas lahan, cara pemberiannya dengan disebar dalam larikan atau lubang ditugal samping kiri & samping kanan.
c)    Pembuangan Titik Tumbuh : Waktu pembuangan titik tumbuh adalah pada umur 10-14 hari setelah tanam, dengan cara memotes ujung tanam sepanjang 5 cm.
d)    Penjarangan Bunga : Jika ingin mendapatkan bunga yg besar, dalam 1 tangkai bunga hanya dibiarkan satu bakal bunga yg tumbuh.

Teknik Penanaman utk Bunga Pot
Sebanyak 5-7 Bibit yg telah berakar ditanam di dalam pot yg berisi media sabut kelapa (hancur) atau campuran tanah & sekam padi (1:1). utk memperpendek batang, pot-pot ini ditumbuhkan selama 2 minggu dengan penyinaran 16 jam/hari. utk merangsang pembungaan, pot-pot kemudian diberi pencahayaan pendek dengan cara menutupnya di dalam kubung dari jam 16.00-22.00. Selama pertumbuhan tanaman diberi pupuk cir multihara lengkap. Pembungaan ini dapat pula dipacu dengan menambahkan hormon tumbuh giberelin sebanyak 500 ppm pada saat penyinaran pendek.
Untuk mendapatkan bunga krisan yang besar & jumlahnya sedikit, bakal bunga dari setiap batang perlu diperjarang dengan hanya menyisakan satu kuncup bunga. Dengan cara ini akan didapatkan krisan pot dengan 5-7 bunga yg mekar bersamaan.
E.  PEMELIHARAAN
1.    Penjarangan & Penyulaman : Waktu penyulaman seawal mungkin yaitu 10-15 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit yg mati atau layu permanen dengan bibit yg baru
2.    Penyiangan : Waktu penyiangan & penggemburan tanah umumnya 2 minggu setelah tanam. Penyiangan dengan cangkul atau kored dengan hati-hati membersihkan rumput-rumput liar
3.    Pengairan & Penyiraman : Pengairan yg paling baik adalah pada pagi atau sore hari, pengairan dilakukan kontinu 1-2 kali sehari, tergantung cuaca atau medium tumbuh. Pengairan dilakukan dengan cara mengabutkan air atau sistem irigasi tetes hingga tanah basah
4.    Pengendalian hama dan penyakit
Hama
a.    Ulat tanah (Agrotis ipsilon)
Gejala: memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai terkulai.
Pengendalian: mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida.
b.    Thrips (Thrips tabacci)
Gejala: pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan seperti perunggu, terutama pada permukaan bawah daun.
Pengendalian: mengatur waktu tanam yang baik, memasang perangkap berupa lembar kertas kuning yang mengandung perekat, misalnya IATP buatan Taiwan.
c.    Tungau merah (Tetranycus sp)
Gejala: daun yang terserang berwarna kuning kecoklat-coklatan, terpelintir, menebal, dan bercak-bercak kuning sampai coklat.
Pengendalian: memotong bagian tanaman yang terserang berat dan dibakar dan penyemprotan pestisida.
d.    Penggerek daun (Liriomyza sp) :
Gejala: daun menggulung seperti terowongan kecil, berwarna putih keabu-abuan yang mengelilingi permukaan daun.
Pengendalian: memotong daun yang terserang, penggiliran tanaman, dengan aplikasi insektisida.
Penyakit
a.  Karat/Rust
Penyebab: jamur Puccinia sp. karat hitam disebakan oleh cendawan P chrysantemi, karat putih disebabkan oleh P horiana P.Henn.
Gejala: pada sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat/hitam dan terjadi lekukan-lekukan mendalam yang berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Bila serangan hebat meyebabkan terhambatnya pertumbuhan bunga.
Pengendalian: menanam bibit yang tahan hama dan penyakit, perompesan daun yang sakit, memperlebar jarak tanam dan penyemprotan insektisida.
b.    Tepung oidium
Penyebab: jamur Oidium chrysatheemi.
Gejala: permukaan daun tertutup dengan lapisan tepung putih. Pada serangan hebat daun pucat dan mengering.
Pengendalian: memotong/memangkas daun tanaman yang sakit dan penyemprotan fungisida.
c.    Virus kerdil dan mozaik
Penyebab: virus kerdil krisan, Chrysanhenumum stunt Virus dan Virus Mozaoik Lunak Krisan (Chrysanthemum Mild Mosaic Virus).
Gejala: tanaman tumbuhnya kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal daripada tanaman sehat, warna bunganya menjadi pucat.
Penyakit kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja kebun.
Virus mosaik menyebabkan daun belang hijau dan kuning, kadang-kadang bergaris-garis.
Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, mencabut tanaman yang sakit, menggunakan alat-alat pertanian yang bersih dan penyemprotan insektisida untuk pengendalian vektor virus


DAFTAR PUSTAKA

http://new.litbang.deptan.go.id/download/179/file/Teknologi-Budidaya-Bunga-K.pdf
http://teknologi--tepat-guna.blogspot.com/2013/05/cara-menanam-bunga-krisan.html

0 komentar:

Posting Komentar