TEKNOLOGI
BUDIDAYA TANAMAN SEMUSIM
PADI
GOGO

Disusun oleh :
Zulfa Nurmaicha
Rahma
134130022
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL " VETERAN "
YOGYAKARTA
2014
PENDAHULUAN
Padi merupakan tanaman pangan penghasil beras berupa
rumput berumpun. Padi termasuk genus Oryza
L. yang meliputi lebih kurang 25 spesies tersebar di daerah tropik dan
subtropik seperti Asia, Afrika, Amerika, dan Australia. Menurut Chevailer dan
Neguier padi berasal dari dua benua Oryza fatua Koenig dan Oryza sativa L.
berasal dari benua Asia, sedangkan jenis padi lainnya yaitu Oryza sapti Roschev
dan Oryza glaberima Steund berasal dari Afrika Barat.
Padi yang ada sekarang ini merupakan persilangan antara Oryza
officinalis dan Oryza sativa f spontania. Di Indonesia pada mulanya tanaman
padi diusahakan didaerah tanah kering dengan sistim ladang, akhirnya orang
berusaha memantapkan basil usahanya dengan cara mengairi daerah yang curah
hujannya kurang. Tanaman padi yang dapat tumbuh dengan baik diusahakan di
daerah tropis ialah Indicia, sedangkan Japonica banyak diusahkan di daerah
subtropika. Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam
di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan
penggenangan.
Penurunan produksi bahan pangan nasional yang dirasakan
saat ini lebih disebabkan oleh semakin sempitnya luas lahan pertanian yang
produktif (terutama di pulau Jawa) sebagai akibat alih fungsi seperti konversi
lahan sawah, ditambah isu global tentang meningkatnya degradasi lahan (di
negara berkembang). Salah satu alternatif pilihan yang diharapkan dapat
meningkatkan potensi produksi tanaman dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan
adalah pendayagunaan lahan kering. Selain karena memang tersedia cukup luas,
sebagian dari lahan kering belum diusahakan secara optimal sehingga
memungkinkan peluang dalam pengembangannya.
Lahan kering selalu dikaitkan dengan pengertian bentuk-bentuk usahatani bukan sawah yang dilakukan oleh masyarakat di bagian hulu suatu daerah aliran sungai (DAS) sebagai lahan atas (upland) atau lahan yang terdapat di wilayah kering (kekurangan air) yang tergantung pada air hujan sebagai sumber air. Untuk memudahkan pengutaraan dalam penyajian ini, yang dimaksud lahan kering adalah lahan atasan, karena kebanyakan lahan kering berada di lahan atasan. Belakangan ini pengertian yang tersirat dalam istilah lahan kering yang digunakan masyarakat umum banyak mengarah kepada lahan kering dengan kebutuhan air tanaman tergantung sepenuhnya pada air hujan dan tidak pernah tergenang air secara tetap.
Lahan kering selalu dikaitkan dengan pengertian bentuk-bentuk usahatani bukan sawah yang dilakukan oleh masyarakat di bagian hulu suatu daerah aliran sungai (DAS) sebagai lahan atas (upland) atau lahan yang terdapat di wilayah kering (kekurangan air) yang tergantung pada air hujan sebagai sumber air. Untuk memudahkan pengutaraan dalam penyajian ini, yang dimaksud lahan kering adalah lahan atasan, karena kebanyakan lahan kering berada di lahan atasan. Belakangan ini pengertian yang tersirat dalam istilah lahan kering yang digunakan masyarakat umum banyak mengarah kepada lahan kering dengan kebutuhan air tanaman tergantung sepenuhnya pada air hujan dan tidak pernah tergenang air secara tetap.
Ditinjau dari segi luasannya, potensi lahan kering di
Indonesia tergolong tinggi dan masih perlu mendapat perhatian yang lebih bagi
pengembangannya, namun apabila ditinjau dari sifat/ karakteristik lahan kering
seperti diuraikan tersebut di atas, sangat diperlukan beberapa tindakan untuk
menanggulangi faktor pembatas yang menjadi kendala dalam pengembangannya.
Lahan kering di Indonesia cukup luas, dengan taksiran
sekitar 60,7 juta hektar atau 88,6% dari luas lahan, sedangkan luas lahan sawah
hanya 7,8 juta hektar atau 11,4% dari luas lahan, sebagian besar banyak
tersebar pada dataran rendah yakni hamparan lahan yang berada pada ketinggian 0
– 700 m dpl (60,65%) dan dataran tinggi yang terletak pada ketinggian >700
dpl (39,35%) dari total luasan lahan kering di Indonesia. Data terbaru,
menyebutkan Indonesia memiliki lahan kering sekitar 148 juta ha (78%) dan lahan
basah (wet lands) seluas 40,20 juta ha (22%) dari 188,20 juta ha total luas
daratan.
Namun demikian, pertanian lahan kering dapat dikatakan
tidak produktif. Petani adalah subyek yang paling merasakan dampak dari
ketidakproduktifan lahan. Untuk mewujudkan pertanian di daerah lahan marginal,
maka diperlukan metode sistem pertanian berkelanjutan di lahan kering terutama
bagian hulu (up land), maka diperlukan sistem penggunaan lahan konservatif dan
produktif secara terus-menerus, tidak hanya terhadap tanah tetapi juga secara
keseluruhan dari sumberdayaalam, termasuk air, hutan, dan daerah pengembalaan.
Untuk mencoba mengkaji peluang dengan melihat sifat/
karakteristik dan potensi dari lahan kering dalam pengembangannya untuk
pertanian tanaman pangan khususnya padi gogo, maka dibuatlah makalah mengenai
penerapan sistem pertanian berkelanjutan dalam pemanfaatan lahan marginal dan
lahan kering untuk menanam varieas padi gogo.
BUDIDAYA
TANAMAN PADI GOGO
A.
Sejarah Singkat
Padi
merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal
dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah
memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000
tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh
India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi
adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam. Klasifikasi botani
tanaman padi adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monotyledonae
Keluarga : Gramineae (Poaceae)
Genus : Oryza
Spesies : Oryza spp.
Terdapat
25 spesies Oryza, yang dikenal adalah O. sativa dengan dua
subspecies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi
cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di
dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan.
Varietas padi gogo lokal yang berasal dari Kalimantan yang masih diminati oleh
petani karena daya adaptifnya yang baik antara lain : varietas Buyung, Cantik,
Katumping, Sabai dan Sasak Jalan. Demikian pula di Sumatera varietas lokal
seperti Arias, Simaritik, Napa, Jangkong, Klemas, Gando, Seratus Malam, dll.
Varietas-varietas lokal umumnya selain berumur panjang, potensi hasilnya rendah
sekitar 2 ton GKG/ha. Namun kelebihannya varietas lokal mempunyai rasa enak
yang sesuai dengan etnis daerah setempat. Selain itu varietas lokal toleran
terhadap keadaan lahan yang marjinal, tahan terhadap beberapa jenis hama dan
penyakit, memerlukan masukan (pupuk dan pestisida) yang rendah, serta pemeliharaan
mudah dan sederhana. Varietas unggul padi gogo telah dilepas sejak tahun
1960-1994. Varietas Danau Atas, Danau Tempe dan Laut Tawar merupakan varietas
yang cocok dibudidayakan pada lahan
podsolik merah kuning. Varietas Gajah Mungkur dan Kalimutu yang dilepas tahun
1994 cocok dikembangkan pada lahan-lahan kering yang tersebar di kawasan Nusa
Tenggara.
B. Sentra
Penanaman
Pusat
penanaman padi di Indonesia adalah Pulau Jawa (Karawang, Cianjur), Bali,
Madura, Sulawesi, dan akhir-akhir ini Kalimantan. Pada tahun 1992 luas panen
padi mencapai 10.869.000 ha dengan rata-rata hasil 4,35 ton/ha/tahun. Produksi
padi nasional adalah 47.293.000 ton. Pada tahun itu hampir 22,5 % produksi padi
nasional dipasok dari Jawa Barat. Dengan adanya krisis ekonomi, sentra padi
Jawa Barat seperti Karawang dan Cianjur mengalami penurunan produksi yang
berarti. Produksi padi nasional sampai Desember 1997 adalah 46.591.874 ton yang
meliputi area panen 9.881.764 ha. Karena pemeliharaan yang kurang intensif,
hasil padi gogo hanya 1-3 ton/ha, sedangkan dengan kultur teknis yang baik
hasil padi sawah mencapai 6-7 ton/ha.
C.
Syarat Pertumbuhan
Pada
dasarnya dalam budidaya tanaman, pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat
dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang
paling penting adalah tanah dan iklim serta interaksi kedua faktor tersebut.
Tanaman padi gogo dapat tumbuh pada berbagai agroekologi dan jenis tanah.
Sedangkan persyaratan utama untuk tanaman padi gogo adalah kondisi tanah dan
iklim yang sesuai. Faktor iklim terutama curah hujan merupakan faktor yang
sangat menentukan keberhasilan budidaya padi gogo. Hal ini disebabkan kebutuhan
air untuk padi gogo hanya mengandalkan curah hujan.
1. Iklim
Padi
gogo memerlukan air sepanjang pertumbuhannya dan kebutuhan air tersebut hanya
mengandalkan curah hujan. Tanaman dapat tumbuh pada daerah mulai dari daratan
rendah sampai daratan tinggi. Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 450
LU sampai 450 LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan
musim hujan 4 bulan. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan selama
3 bulan berturut-turut atau 1500-2000 mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim
kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi
selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah produksi dapat menurun
karena penyerbukan kurang intensif. Di dataran rendah padi memerlukan
ketinggian 0-650 m dpl dengan temperature 22-27 derajat C sedangkan di dataran
tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperature 19-230C.
Tanaman
padi memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Di Indonesia memiliki
panjang radiasi matahari ± 12 jam sehari dengan intensitas radiasi 350 cal/cm2/hari
pada musim penghujan. Intensitas radiasi ini tergolong rendah jika dibandinkan
dengan daerah sub tropis yang dapat mencapai 550 cal/cm2/hari.
Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang
akan merobohkan tanaman.
2. Tanah
Padi
gogo harus dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, sehingga jenis tanah tidak
begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil padi gogo. Sedangkan yang
lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil adalah sifat fisik, kimia dan
biologi tanah atau dengan kata lain kesuburannya. Untuk pertumbuhan tanaman
yang baik diperlukan keseimbangan perbandingan penyusun tanah yaitu 45% bagian
mineral, 5% bahan organik, 25% bagian air, dan 25% bagian udara, pada lapisan
tanah setebal 0 – 30 cm. Struktur tanah yang cocok untuk tanaman padi gogo
ialah struktur tanah yang remah. Tanah yang cocok bervariasi mulai dari yang
berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan air yang
tersedia diperlukan cukup banyak. Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada harus
< 50%. Keasaman (pH) tanah bervariasi dari 5,5 sampai 8,0. Pada pH tanah
yang lebih rendah pada umumnya dijumpai gangguan kekahatan unsur P, keracunan
Fe dan Al. Sedangkan bila pH lebih besar dari 8,0 dapat mengalami kekahatan Zn.
D. MORFOLOGI TANAMAN PADI
1.
Akar.
Berdasarkan
literatur Aak (1992) akar adalah bagian tanaman yang berfungsi menyerap air dan
sat makanan dari dalam tanah, kemudian diangkut kebagian atas tanaman. Akar
tanaman padi dapat dibedakan menjadi:
a)
Radikula : akar yang tumbuh pada
saat benih berkecambah. Pada benih yang sedang berkecambah timbul calon akar
dan batang. Calon akar mengalami pertumbuhan ke arah bawah sehingga terbentuk
akar tunggang, sedangkan calon batang akan tumbuh ke atas sehingga terbentuk
batang dan daun.
b)
Akar serabut (akaradventif) : setelah
5-6 hari terbentuk akar tunggang, akar serabut akan tumbuh.
c) Akar
rambut : merupakan bagian akar yang keluar dari akar tunggang dan akar
serabut. Akar ini merupakan saluran pada kulit akar yang berada diluar, dan ini
penting dalam pengisapan air maupun zat-zat makanan. Akar rambut biasanya
berumur pendek sedangkan bentuk dan panjangnya sama dengan akar
serabut.
d) Akar
tajuk (crown roots) : adalah akar yang tumbuh dari ruas batang terendah.
Akar tajuk ini dibedakan lagi berdasarkan letak kedalaman akar di tanah yaitu
akar yang dangkal dan akar yang dalam. Apabila kandungan udara di dalam tanah
rendah,maka akar-akar dangkal mudah berkembang.
Gambar
1.
Pertumbuhan
akar padi.
Bagian
akar yang telah dewasa (lebih tua) dan telah mengalami perkembangan akan
berwarna coklat, sedangkan akar yangbaru atau bagian akar yangmasih muda
berwarna putih.
2.
Batang.
Padi termasuk golongan
tumbuhan Graminae dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas. Ruas-ruas itu
merupakan bubung kosong. Pada kedua ujung bubung kosong itu bubungnya ditutup
oleh buku. Panjangnya ruas tidak sama. Ruas yang terpendek terdapat pada
pangkal batang. Ruas yang kedua, ruas yang ketiga, dan seterusnya adalah lebih
panjang daripada ruas yang didahuluinya. Pada buku bagian bawah dari ruas
tumbuh daun pelepah yangmembalut ruas sampai buku bagian atas.Tepat pada buku
bagian atas ujumg dari daun pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang
yang terpendek menjadi ligula (lidah) daun, dan bagian yamg terpanjang dan
terbesar menjadi daun kelopak yang memiliki bagian auricle pada sebelah kiri
dan kanan. Daun kelopak yang terpanjang dan membalut ruas yang paling
atas dari batang disebut daunbendera. Tepat dimana daun pelepah teratas menjadi
ligula dan daun bendera, di situlah timbul ruas yang menjadi bulir padi.
Pertumbuhan batang
tanaman padi adalah merumpun, dimana terdapat satu batang tunggal/batang utama
yang mempunyai 6 mata atau sukma, yaitu sukma 1, 3, 5 sebelah kanan dan sukma
2, 4, 6 sebelah kiri. Dari tiap-tiap sukma ini timbul tunas yang
disebut tunasorde pertama.
Gambar
2
Pertumbuhan daun dan batang padi
Tunas orde pertama
tumbuhnya didahului oleh tunas yang tumbuh dari sukma pertama, kemudian diikuti
oleh sukma kedua, disusul oleh tunas yang timbul dari sukma ketiga dan
seterusnya sampai kepad apembentukan tunas terakhir yang keenam pada batang
tunggal.Tunas-tunas yang timbul dari tunas orde pertama disebu ttunas orde
kedua. Biasanya dari tunas-tunas orde pertama ini yang menghasilkan tunas-tunas
orde kedua ialah tunas orde pertama yang terbawah sekali pada batang tunggal/
utama. Pembentukan tunas dari orde ketiga pada umunya tidak terjadi,oleh karena
tunas-tunas dari orde ketiga tidak mempunyai ruang hidup dalam kesesakan dengan
tunas-tunas dari orde pertama dan kedua.
3.
Daun.
Padi termasuk tanaman
jenis rumput-rumputan mempunyai daun yang berbeda-beda, baik bentuk, susunan,
atau bagian bagiannya. Ciri khas daun padi adalah adanya sisik dan telinga
daun. Hal inilah yang menyebabkan daun padi dapat dibedakan dari jenis rumput
yang lain. Adapun bagian-bagian daun padi adalah :
a)
Helaian daun ; terletak pada batang padi dan selalu ada. Bentuknya memanjang
seperti pita. Panjang dan lebar helaian daun tergantung varietas padi yang
bersangkutan.
b)
Pelepah daun (upih) ;merupakan bagian daun yang menyelubungi batang, pelepah
daun ini berfungsi memberi dukungan pada bagian ruas yang jaringannya lunak,
dan hal ini selalu terjadi.
c)
Lidah daun ; lidah daun terletak pada perbatasan antara helai daun dan upih.
Panjang lidah daun berbeda-beda, tergantung pada varietas padi. Lidah daun
duduknya melekat pada batang. Fungsi lidah daun adalah mencegah masuknya air
hujan diantara batang dan pelepah daun (upih). Disamping
itu lidah daun juga mencegah infeksi penyakit, sebab media air memudahkan
penyebaran penyakit.
Daun yang muncul pada
saat terjadi perkecambahan dinamakan coleoptile. Koleopti lkeluar dari benih
yang disebar dan akan memanjang terus sampai permukaan air. koleoptil baru
membuka, kemudian diikuti keluarnya daun pertama, daun kedua dan seterusnya
hingga mencapai puncak yang disebut daun bendera, sedangkan daun terpanjang
biasanya pada daun ketiga. Daun bendera merupakan daun yang lebih pendek
daripada daun-daun di bawahnya, namun lebih lebar dari pada daun sebelumnya.
Daun bendera ini terletak di bawah malai padi. Daun padi mula-mula
berupa tunas yang kemudian berkembang menjadi daun. Daun pertama pada batang
keluar bersamaan dengan timbulnya tunas (calon daun) berikutnya. Pertumbuhan
daun yang satu dengan daun berikutnya (daun baru) mempunyai selang waktu 7
hari,dan 7 hari berikutnya akan muncul daun baru lainnya.
Gambar
3
Bagian daun tanaman padi
4.
Bunga.
Sekumpulan bunga padi
(spikelet) yang keluar dari buku paling atas dinamakan malai. Bulir-bulir padi
terletak pada cabang pertama dan cabang kedua, sedangkan sumbu utama malai
adalah ruas buku yang terakhir pada batang. Panjang malai tergantung pada
varietas padi yang ditanam dan cara bercocok tanam. Dari sumbu utama pada ruas
buku148 yang terakhir inilah
biasanya panjang malai (rangkaian bunga) diukur. Panjang malai dapat dibedakan
menjadi 3 ukuran yaitu malai pendek (kurang dari 20 cm), malai sedang (antara
20-30 cm), dan malai panjang (lebih dari 30cm). Jumlah cabang pada setiap malai
berkisar antara 15-20 buah, yang paling rendah 7 buah cabang, dan yang
terbanyak dapat mencapai 30 buah cabang. Jumlah cabang ini akan mempengaruhi
besarnya rendemen tanaman padi varietas baru, setiap malai bisa mencapai100-120
bunga.
Bunga
padi adalah bunga telanjang artinya mempunyai perhiasan bunga. Berkelamin dua
jenis dengan bakal buah yang diatas. Jumlah benang sari ada 6 buah, tangkai
sarinya pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai dua kandung serbuk.
Putik mempunyai dua tangkai putik, dengan dua buah kepala putik yang berbentuk
malai dengan warna pada umumnya putih atau ungu.
Gambar 4
Bunga
padi dan malai.
Komponen-komponen
(bagian) bunga padi adalah:
a)
kepala sari
b)
tangkai sari,
c)
palea (belahan yang besar),
d)
lemma (belahan yang kecil),
e)
kepala putik,
f)
tangkai bunga.
5.
Buah.
Buah padi yang sehari-hari kita sebut
biji padi atau butir/gabah, sebenarnya bukan biji melainkan buah padi yang
tertutup oleh lemma dan palea. Buah ini terjadi setelah selesai penyerbukkan
dan pembuahan. Lemma dan palea serta bagian lain yang membentuk sekam atau
kulit gabah.
Jika bunga padi telah dewasa, kedua
belahan kembang mahkota (palea dan lemmanya) yang semula bersatu akan membuka
dengan sendirinya sedemikian rupa sehingga antara lemma dan palea terjadi siku/sudut
sebesar 30-600. Membukanya kedua belahan kembang mahkota itu terjadi pada
umumnya pada hari-hari cerah antara jam 10-12, dimana suhu kira-kira 30-320C.
Di dalam dua daun mahkota palea dan lemma itu terdapat bagian dalam dari bunga
padi yang terdiri dari bakal buah (biasa disebut karyiopsis).
Jika buah padi telah masak, kedua
belahan daun mahkota bunga itulah yang menjadi pembungkus berasnya (sekam).
Diatas karyiopsis terdapat dua kepala putik yang dipikul oleh masing-masing
tangkainya. Lodicula yang berjumlah dua buah, sebenarnya merupakan daun mahkota
yang telah berubah bentuk. Pada waktu padi hendak berbunga, lodicula menjadi mengembang
karena menghisap cairan dari bakal buah. Pengembangan ini mendorong lemma dan
palea terpisah dan terbuka. Hal ini memungkinkan benang sari yang memanjang
keluar dari bagian atas atau dari samping bunga yang terbuka tadi. Terbukanya
bunga diikuti dengan pecahnya kandung serbuk, yang kemudian menumpahkan tepung
sarinya. Sesudah tepung sarinya ditumpahkan dari kandung serbuk maka lemma dan
palea menutup kembali. Dengan berpindahnya tepung sari dari kepala putik
maka selesailah sudah proses penyerbukkan. Kemudian terjadilah pembulaian yang
menghasilkan lembaga dan endosperm. Endosperm adalah penting sebagai sumber cadangan
makanan bagitanaman yang baru tumbuh
E. TEKNIK
BUDIDAYA
1. Pemilihan
Varietas
Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam menentukan varietas padi gogo untuk diusahakan di suatu
daerah antara lain adalah :
1.
Kesesuaiannya terhadap lingkungan tumbuh (ketinggian tempat, iklim),
2.
Umur tanaman yang erat kaitannya dengan curah hujan yang ada dan pola tanam,
3. Ketahanan terhadap
hama dan penyakit,
4. Produktivitas.
Sedangkan syarat benih
yang baik:
a)
Tidak mengandung gabah hampa, potongan jerami, kerikil, tanah dan hama gudang.
b) Warna gabah sesuai
aslinya dan cerah.
c) Bentuk gabah tidak
berubah dan sesuai aslinya.
d) Daya perkecambahan >80%.
2.
Pengolahan
Lahan
Pengolahan
tanah untuk pertanaman padi gogo dimulai sebelum atau menjelang musim
penghujan. Pengolahan tanah dilakukan sesuai kondisi lahan. Pada prinsipnya
pengolahan tanah dilakukan untuk
menciptakan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan tanaman, yaitu
menciptakan keseimbangan antara padatan,
aerasi dan kelembaban tanah. Ada lahan yang perlu pengolahan tanah sedikit (minimum
tillage) atau bahkan tidak perlu pengolahan tanah (zerrotillage) seperti
tanah podzolik merah Kuning di Sumatra yang memiliki tingkat kemiringan
>10%. Karena jika dilakukan pengolahan tanah justru akan merugikan disamping
menambah biaya juga menyebabkan tanah lebih peka terhadap erosi sehingga
kesuburannya menurun. Demikian pula hasil padi yang diperoleh antara sistem
olah tanah sempurna dengan oleh tanah
minimum tidak berbeda nyata, sehingga
sistem olah tanah minimum lebih ekonomis. Cara pengolahan tanah adalah sebagai
berikut:
1.
Lahan dibersihkan dari tanaman penggangu
dan rumput sambil memperbaiki pematang dan saluran drainase.
2.
Tanah dibajak dua kali pada kedalaman
25-30 cm, tanah dibalik.
3. Pemupukan
organik diberikan pada waktu pembajakan yang kedua sebanyak 20 ton/ha.
4. Untuk
menghaluskan tanah, tanah digaru lalu diratakan.
5. Tanah
dibiarkan sampai hujan turun.
Dalam
budidaya tanpa olah tanah untuk mengendalikan gulma digunakan herbisida.
Sebelum aplikasi herbisida dilakukan, gulma (terutama alang-alang) direbahkan
atau dibakar terlebih dahulu, setelah tumbuh sekitar 60 cm (tidak sedang
berbunga) baru diadakan penyemprotan. Takaran herbisida jenis Roundup antara
5-6 l/ha dengan pelarut air antara 200-800 l/ha.
3.
Penanaman
Penanaman
padi gogo pada dasarnya dapat dilakukan dengan tiga macam cara yaitu :
1.
Cara tanam disebar
Cara tanam ini dilakukan dengan menyebar
rata diatas permukaan tanah atau lahan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.
Kebutuhan benih pada cara ini biasanya lebih banyak dibandingkan cara yang
lain, yaitu berkisar 60 – 70 kg/ha. Cara tanam ini mempunyai keuntungan tenaga
kerja tanam yang dibutuhkan sedikit. Kelemahan dari cara ini antara lain :
a. Memerlukan
benih lebih banyak
b. Resiko
benih dimakan hama lebih tinggi, karena di permukaan
c. Tanaman
lebih peka terhadap kekeringan atau kekurangan air.
d. Resiko
benih hanyut jika terjadi hujan lebat lebih tinggi
e. Lebih
sulit dalam perawatan, termasuk pengendalian gulma.
Untuk mengurangi resiko atau kelemahan tersebut
maka perlu dilakukan antisipasi seperti pembuatan saluran drainase atau
parit-parit sehingga terbentuk bedeng-bedeng untuk mencegah genangan air. Guna
mengendalikan rumput sebaiknya diaplikasikan herbisida pra tumbuh sebelum sebar
benih. Penggunaan seed treatment untuk menanggulangi hama.
2.
Cara tanam alur
Lahan yang telah dipersiapkan dibuat
alur-alur sedalam 3 – 4 cm, dengan jarak antar alur 20 – 25 cm. Kemudian dalam
alur tersebut disebarkan benih padi secara iciran, artinya benih padi dijatuhkan
secara manual dengan tangan dan diatur sedemikian rupa sehingga benih jatuh
dalam alur tersebut secara merata. Setelah itu benih dalam alur ditutup kembali
dengan tanah. Kebutuhan benih cara tanam alur ini berkisar antara 40 – 50
kg/ha, jadi lebih sedikit dibandingkan dengan sistem sebar.
3.
Cara tanam tugal
Pada
cara tanam ini lahan yang sudah siap dibuat lubang-lubang tanam dengan
menggunakan tugal. Pada umumnya untuk pertanaman padi gogo menggunakan jarak
tanam 20 x 20 cm. Setelah lubang bekas tugal terbentuk kemudian 2 – 3 butir
benih dimasukkan ke dalam setiap lubang tanam dan selanjutnya ditutup kembali
dengan tanah. Sebaiknya sebelum ditanam benih direndam sekitar 6 – 12 jam,
kemudian dikeringanginkan sekitar 6 – 12 jam. Pada cara tanam dengan tugal ini
kebutuhan benihnya ± 30 kg/ha, dan perawatan tanaman akan lebih mudah. Oleh
karena itu cara ini yang paling banyak dipraktekkan oleh petani meskipun
memerlukan tenaga kerja tanam lebih banyak dibandingkan cara sebat atau alur.
Jarak
tanam atau jarak antar larik dan jumlah benih/lubang/ha sangat tergantung pada
tingkat kesuburan tanah dan kualitas benih yang ditanam. Semakin subur tanah,
jarak tanam dapat semakin rapat. Demikian pula, semakin baik kualitas benih,
maka semakin sedikit jumlah benih yang diperlukan. Jarak tanam, jumlah benih
dan cara tanam dapat berpengaruh terhadap hasil padi gogo di lahan kering.
4.
Pemeliharaan
a. Penyiraman
Penyulaman
Padi Gogo dilakukan pada umur 1-3 minggu setelah tanam.
b. Penyiangan
Dilakukan secara mekanis
dengan cangkul kecil, sabit atau dengan tangan waktu tanaman berumur 3-4 minggu
dan 8 minggu. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan pertama dan 1-2
minggu sebelum muncul malai.
c. Pemupukan
Pupuk yang digunakan
dalam budidaya padi gogo sebaiknya dikombinasikan antara pupuk organik dan
pupuk anorganik. Pemberian pupuk organik (pupuk kandang atau kompos), dapat
memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Sedangkan pemberian pupuk anorganik
yang dapat menyediakan hara dalam waktu cepat, pada dosis yang sesuai kebutuhan
tanaman berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan hasil.
Pupuk organi
diaplikasikan pada saat penyiapan lahan. Pupuk ini dipakai untuk meningkatkan
kandungan C organik tanah dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme tanah.
Dosis pupuk pada pertanaman padi gogo harus disesuaikan dengan tingkat
kesuburan tanahnya. Jenis pupuk anorganik yang diberikan berupa 150-200 kg/ha
Urea, 75 kg/ha TSP dan 50 kg/ha KCl. Pupuk TSP dan KCl diberikan saat tanam dan
urea pada 3-4 minggu dan 8 minggu setelah tanam. Pupuk urea , TSP maupun KCl
sebaiknya diberikan dalam alur atau ditugal kemudian ditutup kembali dengan
tanah untuk mencegah kehilangan unsurnya.
Tabel
: waktu dan cara pemberian pupuk anorganik pada pertanaman padi gogo
Jenis Pupuk
|
Waktu pemupukan
|
Cara Pemupukan
|
|||
0 hst
|
14 hst
|
42 hst
|
55 hst
|
||
Urea
|
-
|
1/6 bag
|
1/2 bag
|
1/3 bag
|
Ditugal/alur
|
TSP
|
1 bag
|
-
|
-
|
-
|
Dalam alur/ sebar
|
KCl
|
1 bag
|
-
|
-
|
-
|
Dalam alur/sebar
campur tanah
|
Keterangan
:
Bag
= bagian dari dosis yang digunakan
Hst
= haris setelah tanam
5.
Penyakit
tanaman padi gogo
a. Bercak
daun coklat
Penyebab:
jamur Helmintosporium oryzae).
Gejala:
menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru
berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa
busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati.
Pengendalian:
(1) merendam benih di dalam air panas, pemupukan berimbang, menanam padi tahan
penyakit ini, menaburkan serbuk air raksa dan bubuk kapur (2:15); (2) dengan
insektisida Rabcide 50 WP.
b. Blast
Penyebab:
jamur Pyricularia oryzae.
Gejala:
menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn
daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk.
Proses pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa.
v Pengendalian:
(1) membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varietas unggul yang tahan
(laut tawar, IR 43, danau atas, dll); (2) pemberian pupuk berimbang, khusuasya
antara nitrogen dan fosfat di saaat pertengahan fase vegetative dan fase
pembentukan bulir; (3) pergiliran varietas (4) menyemprotkan insektisida
Fujiwan 400 EC, Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.
c. Penyakit
garis coklat daun (Narrow brown leaf spot,)
Penyebab:
jamur Cercospora oryzae.
Gejala:
menyerang daun dan pelepah. Tampak gari-garis atau bercak-bercak sempit
memanjang berwarna coklat sepanjang 2-10 mm. Proses pembungaan dan pengisian
biji terhambat.
Pengendalian:
(1) menanam padi tahan penyakit ini seperti Citarum, mencelupkan benih ke dalam
larutan merkuri; (2) menyemprotkan fungisida Benlate T 20/20 WP atau Delsene MX
200.
d. Busuk
pelepah daun
Penyebab:
jamur Rhizoctonia sp.
Gejala:
menyerang daun dan pelepah daun, gejala terlihat pada tanaman yang telah
membentuk anakan dan menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini
tidak terlalu merugikan secara ekonomi.
Pengendalian:
(1) menanam padi tahan penyakit ini; (2) menyemprotkan fungisida pada saat
pembentukan anakan seperti Monceren 25 WP dan Validacin 3 AS.
e. Penyakit
fusarium
Penyebab:
jamur Fusarium moniliforme.
Gejala:
menyerang malai dan biji muda, malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat
ulat, daun terkulai, akar membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak
terlalu parah.
Pengendalian:
merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan merkuri.
f. Penyakit
noda/api palsu
Penyebab:
jamur Ustilaginoidea virens.
Gejala:
malai dan buah padi dipenuhi spora, dalam satu malai hanya beberap butir saja
yang terserang. Penyakit tidak menimbulkan kerugian besar. Pengendalian:
memusnahkan malai yang sakit, menyemprotkan fungisida pada malai sakit.
6.
Panen
Umur panen padi gogo bervariasi tergantung
varietas dan lingkungan tumbuh. Panen sebaiknya dilakukan pada fase masak panen
yang dicirikan dengan kenampakkan >90% gabah sudah menguning (33-36 hari
setelah berbunga), bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau dan
kadar air gabah 21-26 %. Panen yang dilakukan pada fase masak lewat panen,
yaitu pada saat jerami mulai mengering, pangkal mulai patah, dapat
mengakibatkan banyak gabah yang rontok saat dipanen.
Sebelum pemanenan, dilakukan pengeringan
sawah 7-10 hari sebelum panen, gunakan sabit tajam untuk memotong pangkal
batang, simpan hasil panen di suatu wadah atau tempat yang dialasi. Panen
dengan menggunakan mesin akan menghemat waktu, dengan alat Reaper
binder panen dapat dilakukan selama 15 jam untuk setiap hektar, sedangkan
dengan Reaper harvester panen hanya dilakukan selama 6 jam untuk 1
hektar. Perontokan hasil panen menggunakan pedal thresher. Perontokan dengan
pengebotan (memukul-mukul batang padi pada papan) sebaiknya dihindari karena
kehilangan hasilnya cukup besar, bisa mencapai 3,4%. Kegiatan yang dilakukan
pasca panen seperti berikut :
a.
Perontokan. Lakukan secepatnya setelah panen, gunakan cara diinjak-injak (±60
jam orang untuk 1 hektar), dihempas/dibanting (± 16 jam orang untuk 1 hektar)
dilakukan dua kali di dua tempat terpisah. Dengan menggunakan mesin perontok,
waktu dapat dihemat. Perontokan dengan perontok pedal mekanis hanya memerlukan
7,8 jam orang untuk 1 hektar hasil panen.
b.
Pembersihan. Bersihkan gabah dengan cara diayak/ditapi atau dengan blower
manual. Kadar kotoran tidak boleh lebih dari 3 %.
c.
Jemur gabah selama 3-4 hari selama 3 jam per hari sampai kadar airnya 14%.
Secara tradisional padi dijemur di halaman. Jika menggunakan mesin pengering,
kebersihan gabah lebih terjamin daripada dijemur di halaman.
d.
Penyimpanan. Gabah dimasukkan ke dalam karung bersih dan jauhkan dari beras
karena dapat tertulari hama beras. Gabah siap dibawa ke tempat penggilingan
beras (huller).
KESIMPULAN
Padi gogo merupakan jenis padi yang dibudidayakan pada
lahan marginal atau lahan kering dimana pemenuhan kebutuhan air tanaman
tergantung pada hujan yang turun (tadah hujan). Oleh karena itu penaman yang
baik dilakukan setelah terdapat 1 – 2 kali hujan, awal musim penghujan (Oktober
– Nopember) agar kebutuhan air teerpenuhi. Padi ini pada umumnya lebih banyak
diusahakan di daerah-daerah di luar Pulau Jawa, terutama Sumatera, Kalimantan
dan Nusa Tenggara karena sebagian besar wilayah ini berbukit-bukit dan
merupakan jenis lahan kering.
Pada dasarnya dalam budidaya tanaman, pertumbuhan dan
perkembangan tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor
lingkungan. Faktor lingkungan yang paling penting adalah tanah dan iklim serta
interaksi kedua faktor tersebut. Tanaman padi gogo dapat tumbuh pada berbagai
agroekologi dan jenis tanah.
Ada lahan yang perlu pengolahan tanah
sedikit (minimum tillage) atau bahkan tidak perlu pengolahan
tanah (zerro tillage). Pengolahan tanah yang sempurna justru merugikan,
karena disamping menambah biaya juga menyebabkan tanah lebih peka terhadap
erosi sehingga kesuburannya menurun. Demikian pula hasil padi yang diperoleh
antara sistem olah tanah sempurna dengan oleh tanah minimum tidak berbeda
nyata, sehingga sistem olah tanah minimum lebih ekonomis.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.
2014. http://globososo.inspsearch.com417&fcop=topnav &fpid=2 &q=pdf+budidaya+padi+gogo&ql=×tamp=139488573212
Diunduh pada tanggal 09 Maret 2014 Pukul 20.00 WIB
Anonim.
2014. http://www.docstoc.com/docs/127295657/budidaya-padi-gogo Diunduh pada
tanggal 09 Maret 2014 Pukul 22.35 WIB
Anonim.
2014. http://adhisuryaperdana.wordpress.com/pertanian-ugm/budidaya-tanaman
Diunduh pada tanggal 09 Maret 2014 Pukul 22.50 WIB
Anonim.
2014. http://hirupbagja.blogspot.com/2009/09/morfologi-tanaman-padi.html
Diunduh pada tanggal 11 Maret 2014 Pukul 21.10 WIB
Anonim.
2014. http://www.scribd.com/doc/109774556/Sistem-Budidaya-Padi-Gogo-Rancah
Diunduh pada tanggal 11 Maret 2014 Pukul 21.30 WIB
Anonim.
2014. http://www.slideshare.net/IBSetiawan/juknis-budidaya-padi-gogo-aromatik?utm_source=slideshow02&utm_medium=ssemail&utm_campaign=share_slideshow
Diunduh pada tanggal 11 Maret 2014 Pukul 21.50 WIB
Anonim.
2014. http://www.scribd.com/doc/96159455/Makalah-Budidaya-Padi-GOGO-Final
Diunduh pada tanggal 14 Maret 2014 Pukul 17.20 WIB
Anonim.
2014. http://www.stuffspec.com/publicfilesPadi_Gogo_Lokal_Bengkulu Diunduh pada
tanggal 14 Maret 2014 Pukul 20.20 WIB



Tidak ada komentar:
Posting Komentar