KRISAN
A. PENDAHULUAN
Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau
Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal
dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C.
Morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang
abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan
sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East.
Tanaman
krisan termasuk dalam tanaman hari pendek (16 jam siang), yang berasal dari
daerah sub tropis. Menurut penggunaannya krisan dapat dikelompokkan: krisan
sebagai bunga potong dan krisan bunga pot/ pot plant, sedangkan menurut tipenya
krisan dapat digolongkan sebagai krisan standard dan krisan sprey.
Indonesia termasuk negara beriklim tropis,
dimana panjang hari siangnya selama 12 jam, sedangkan daerah sub tropis panjang
hari siangnya selama 16 jam. Untuk membudidayakan bunga krisan di Indonesia,
diperlukan penambahan cahaya, sebanyak 70 lux selama 4 jam pada malam hari.
Tujuan penambahan cahaya adalah untuk mempertahankan fase vegetatif tanaman.
Tanaman Krisan dengan nama Internasional Chrysanthemum
atau disebut mum, terdiri dari banyak specis. Dari banyaknya species
inilah kemudian mulai dikembangkan/ disilangkan oleh para pemulia, sehingga
menghasilkan banyak cultivar yang baru dan hibrida. Dalam penggunaannya krisan
di kategorikan dalam tiga jenis, yaitu: cut mum (krisan potong), pot
mum (krisan pot), dan garden mum (krisan kebun).
B. LINGKUNGAN TUMBUH TANAMAN
Krisan
umumnya dibudidayakan dan tumbuh baik di dataran medium sampai tinggi pada
kisaran 650 hingga 1.200 m dpl. Di habitat aslinya, krisan merupakan tanaman
yang bersifat menyemak dan dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 30– 200 cm.
Berdasarkan siklus hidupnya, krisan dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu krisan
semusim (hardy annual) dan krisan tahunan (hardy perennial). Tanaman krisan
yang dibudidayakan saat ini merupakan krisan modern hasil hibridisasi, seleksi
dan rekayasa genetik yang telah dilakukan para pemulia krisan. Media tanam
krisan yang baik di tanah bertekstur liat berpasir, dengan kerapatan jenis 0,2
- 0,8 g/cm3 (berat kering), total porositas 50–75%, kandungan air 50-70%,
kandungan udara dalam pori 10–20%, kandungan garam terlarut 1–1,25 dS/m2 dan
kisaran pH sekitar 5,5 – 6,5. Kondisi ini dapat dicapai dengan memodifikasi
media tumbuh dalam bedengan.
Tanaman
krisan membutuhkan panjang hari tertentu untuk meningkatkan pertumbuhan
vegetatifnya. Panjang hari yang dibutuhkan untuk fase vegetatif adalah lebih
dari batas kritisnya (13,5–16 jam). Untuk fase vegetatif pada budidaya krisan,
pemberian cahaya tambahan dengan menggunakan lampu pada malam hari mutlak
diperlukan. Intensitas cahaya lampu untuk tanaman krisan pada malam hari berkisar
antara 40–100 lux, setara dengan lampu pijar 75– 100 watt atau esensial 18-23
watt dengan jarak antar titik lampu 2x2 m dan dengan ketinggian 1,5–2 meter di
atas permukaan bedengan. Durasi pemberian cahaya tambahan sekitar 4-5 jam per
malam mulai pukul 22.00–02.00. Untuk menghemat energi listrik, pencahayaan
dapat diatur secara siklik dengan 10 menit hidup dan 20 menit mati dalam
rentang waktu 4-5 jam dengan menggunakan pewaktu atau timer. Pemasanagan
instalasi cahaya tambahan tersebut sebaiknya dilakukan sebelum pengolahanan
tanah.
C.
TEKNIK
PERBANYAKAN TANAMAN
1) Kultur jaringan
Kultur jaringan merupakan suatu
metode untuk merangsang jaringan-jaringan biji (generatif), serta
jaringan-jaringan batang, daun, tunas, dan akar (vegetatif) dengan menempatkan
jaringan-jaringan tersebut dalam media semai khusus yang berupa padatan atau
cairan yang sudah disterilkan sehingga terbebas dari mikroorganisme. Kultur
jaringan lebih efektif digunakan untuk pembibitan vegetatif. Adapun
tahapan-tahapan untuk mendapatkan bibit bunga krisan dengan menggunakan kultur
jaringan, antara lain.
a)
Menyeleksi induk krisan
Pertama menyeleksi induk krisan agar
mendapatkan induk yang berkualitas, sehingga bibit yang dihasilkan berkualitas
pula. Ciri induk krisan yang berkualitas adalah pertumbuhan bunganya cepat,
memiliki produktivitas bunga yang cukup tinggi, tidak terserang hama dan
penyakit (dalam kondisi sehat), serta memiliki banyak mata tunas.
b)
Pengambilan mata tunas
Proses selanjutnya potong mata tunas
dengan suet yang steril, kemudian mata tunas tersebut direndam selama 10 menit
dalam Sublimat 0,04 % HgCL. Jika telah selesai, bilas mata tunas tersebut
dengan air suling yang steril.
c) Eksplan (penempatan mata tunas)
pada medium padat
Sebelum mata tunas ditempatkan pada
medium, perlu adanya persiapan untuk membuat medium tersebut. Medium yang
diperlukan adalah medium MS padat yang dicampurkan dengan 150 ml air kelapa per
liter, 1,5 mg kinetin per liter, dan 0,5 mg NAA per liter di dalam sebuah wadah
yang steril, biasanya wadah yang digunakan adalah botol. Setelah medium dibuat,
kemudian masukan mata tunas tadi ke dalam medium tersebut (botol). Mata tunas
mulai berakar setelah 26 hari ditempatkan di medium dan mulai tumbuh tunas
setelah 3 hari tumbuh akar.
d) Penyemaian bibit
Proses selanjutnya bibit dipindahkan
di medium penyemaian yang berupa pasir yang sudah steril (setelah mata tunas
sudah berakar dan bertunas di dalam medium), dengan kedalaman tanam disesuaikan
dengan ukuran bibit. Setelah ditanam, kemudian ditutup dengan plastik bening
agar mendapatkan cahaya lampu dan tempatkan di tempat yang terbebas dari
mikroorganisme (aseptik). Buka penutup plastik bening pada sore dan ma’am hari
sekitar 1-2 hari sebelum bibit dipindahkan ke kebun.
e) Penanaman bibit di kebun
Bibit krisan dapat dipindahkan di
kebun ketika sudah tumbuh dengan ketinggian kurang Iebih 9 cm dan memiliki daun
sebanyak kurang Iebih helai.
2) Stek pucuk
Stek adalah suatu usaha untuk
menghasilkan bibit dengan cara melakukan pemotongan pada salah satu bagian dari
tanaman induk, seperti batang, pucuk, cabang, atau akar, yang kemudian bagian
yang dipotong akan disemaikan/ditanam di media semai agar tumbuh akar. Stek
pucuk adalah stek yang dilakukan dengan mengambil pucuk tanaman induknya.
Adapun tahapan untuk melakukan stek pucuk pada krisan, antara lain:
a) Menyeleksi tanaman krisan sebagai
induk
Langkah
pertama dalam melakukan stek adalah dengan menyeleksi tanaman krisan untuk
dijadikan induk. Dengan mendapatkan induk yang berkualitas, akan menghasilkan
bibit yang berkualitas pula. Ciri-ciri induk krisan yang berkualitas adalah
pertumbuhan bunganya cepat, memiliki produktivitas bunga yang cukup tinggi,
serta tidak terserang hama dan penyakit (dalam kondisi sehat).
b) Menyeleksi pucuk sebagai bibit
Setelah
mendapatkan induk yang berkualitas, Iangkah selanjutnya adalah menyeleksi pucuk
dari induk tersebut untuk dijadikan bibit krisan. Adapun pucuk yang baik untuk
dijadikan bibit krisan adalah memiliki kurang Iebih 4 helai daun yang sudah
dewasa dengan warna hijau cerah dan memiliki diameter pangkalnya kurang Iebih 4
mm.
c) Memotong pucuk
Setelah
menemukan pucuk yang baik untuk dijadikan bibit, kemudian potong pucuk tersebut
dengan menggunakan silet atau pisau yang steril dan tajam, dengan ukuran
panjang pucuk yang dipotong kurang Iebih 7 cm. Setelah dipotong, cabut sebagian
atau seluruh daun yang berada pada pucuk tersebut. Hal tersebut dimaksudkan
untuk mengurangi penguapan yang berlebihan. Setelah itu, pucuk yang ingin
dijadikan akar direndam dalam larutan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh)/Rotoon selama
kurang Iebih 5 menit. Larutan ZPT berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan akar.
d) Penyemaian pucuk stek
Setelah
pucuk stek dipotong dan direndam dalam larutan ZPT (Rotoon),selanjutnya
pucuk stek tersebut disemai. Sebelumnya, perlu menyiapkan media semai berupa
pasir yang sudah steril. Media semai tersebut dimasukkan ke dalam pot
atau polybag yang bagian bawahnya dilubangi untuk menghindari
jumlah air yang berlebihan, yang dapat mengakibatkan pucuk stek menjadi busuk.
Setelah media semai dibuat, selanjutnya tanam pucuk stek dengan cara
menancapkannya ke dalam media semai tersebut dengan kedalaman sekitar sepertiga
dari panjang pucuk stek. setelah itu, tutup dengan plastik bening dan tempatkan
di dalam ruangan. Gunakan lampu untuk membantu proses pertumbuhannya dan
lakukan perawatan dengan melakukan penyiraman menggunakan sprayer air sebanyak
2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Apabila ada hama atau penyakit maka
lakukan penyemprotan dengan mengunakan pestisida.
e)
Pemindahan bibit ke kebun
Bibit krisan dapat dipindahkan dari
tempat penyemaian ke kebun untuk ditanam hingga berbunga kurang lebih 13 hari
setelah semai.
D.
TEKNIK
PENANAMAN
1. Pemilihan
bibit dan varietas.
Bibit yang
berkualitas yaitu bibit dengan kemurnian genetik tinggi, sehat (bebas patogen terutama
penyakit sistemik), tidak mengalami gangguan fisiologis, mempunyai daya
tumbuh kuat dan memiliki nilai komersial di pasaran.
Pilihlah
bibit dan varietas yang baik, yaitu varietas yang tidak menunjuklian gejala
degeneratif, produktif dan adaptif di daerah tropik. Selain itu perlu
diperhatikan pula ketahanannya terhadap patogen.
2. Penyiapan
Media Tumbuh
Media
tumbuh perakaran stek
Agar pertumbuhan akar stek tidak terhambat,
pilihlah media untuk perakaran stek yang mempunyai sifat menahan air yang
tinggi, antara lain : arang sekam, sekam, atau pasir. Sterilkan dengan uap
panas 800c selama 4 jam dan kering anginkan selama 2 hari. Letakkan
media tersebut pada bak-bak pengakaran yang lebamya 80 cm dan ratakan.
Kemudian basahilah dengan air atau gunakan larutan pestisida dosis rendah
untuk mencegah serangan penyakit pada stek selama proses pengakaran. Ambil
pucuk tunas aksiler dari tanaman induk yang sehat dan tumbuh optimal serta
mempunyai 5 - 7 daun sempurna. Agar kualitas stek yang dihasilkan terjaga,
pengambilan stek sebaiknya dari tanaman induk untuk produksi stek bukan
tanaman produksi bunga. Potong tunas tersebut dengan menggunakan pisau
yang steril. Sisakan 2 - 3 daun pada batang tanaman induk. Kemudian letakkan
pada wadah, semprot dengan larutan fungisida dan bakterisida. - Celupkan
pangkal tangkai stek pucuk tersebut pada zat pengatur tumbuh, tancapkan pada
media pengakaran stek. Setelah +14 hari, cabutlah stek pucuk tersebut
secara perlahan-lahan supaya akar tidak rusak dan stek pucuk siap ditanam
dirumah lindung.
Media
pertumbuhan pada bedengan
Buatlah bedengan dengan menggunakan cangkul sedalam
30 cm hingga gembur. Kering-anginkan selama 7 hari. Biarkan kering,
jangan diberi air atau terbasahi, untuk mencegah berkembangnya gulma dan hama
penyakit. Setelah 7 hari dikering-nginkan, gemburkan tanah untuk yang kedua
kalinya, sambil membersihkan sisa gulma yang masih tumbuh. Bentuk bedengan
setinggi 25 - 30 cm dan lebar satu meter dengan jarak antara bedengan 35 cm,
panjang disesuaikan densankondisi lahan. Taburkan pupuk kandang yang
sudah matang dengan dosis 3 ton/tra. Bersamaan dengan itu, berikan pupuk
dasar yang terdiri dari campuran Urea 200 kg/ha + KCl 350 kg/ha + SP-36 300
kg/ha, aduk merata. Sterilisasi bedengan dengan menggunakan Basamid sesuai
dosis anjuran dan tutup dengan penutup kedap udara selama 18 - 21 hari.
Setelah l8 - 21 hari, penutup bedengan dibuka dan diolah ringan untuk
menghilangkan efek Basamid yang ada pada bedengan. Pada tanah-tanah yang
memiliki tingkat kemasaman tinggi hingga dibawah pH 5,5 perlu ditambahkan
kapur pertanian untuk memperbaiki pH tanah. Sumber kapur dapat berupa
dolomite (kapur tohore). Dosis pemberian kapur disesuaikan dengan kemasaman
tanah. Pemberian kapur dilakukan dengan menamburkan kapur pada permukaan
media bedengan dan diaduk ringan. Selanjutnya, 1 hingga 2 hari sebelum tanam,
bedengan diberi air hingga kapasitas lapang dan dipasang jaring penegak
tanaman yang sesuai dan dibuat lobang tanam sesuai jarak tanam.
Pengapuran
Tanah
yang mempunyai pH > 5,5, perlu diberi pengapuran berupa kapur pertanian
misalnya dengan dolomit, kalsit, zeagro. Dosis tergantung pH tanah. Kebutuhan
dolomit pada pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha,
pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada
permukaan bedengan.
3.
Penanaman
Teknik
Penanaman Bunga Potong
a)
Penentuan Pola Tanam. : Tanaman bunga krisan merupakan tanaman yangdapat
dibudidayakan secara monokultur.
b)
Pembuatan Lubang Tanam : Jarak lubang tanam 10
cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm. Lubang tanam dengan cara ditugal. Penanaman
biasanya disesuaikan dengan waktu panen yaitu pada hari-hari besar. Waktu
tanam yg baik antara pagi atau sore hari.
c)
Pupuk Dasar : Furadan 3G sebanyak 6-10 butir
perlubang. Campuran pupuk ZA 75 gram ditambah TSP 75 gram ditambah KCl 25gram
(3:3:1)/m2 luas tanam, diberikan merata pada tanah sambil diaduk.
d)
Cara Penanaman : Ambil bibit satu per satu dari
wadah penampungan bibit, urug dengan tanah tipis agar perakaran bibit krisan
tidak terkena langsung dengan furadan 3G. Tanamkan bibit krisan satu per satu pada lubang yg
telah disiapkan sedalam 1-2 cm, sambil memadatkan tanah pelan-pelan dekat
pangkal batang bibit. Setelah penanaman siram dengan air & pasang naungan
sementara dari sungkup plastik transparan.
Teknik
Penanaman untuk Memperpendek Batang
Penanaman dilakukan sama dengan utk bunga potong
biasa, tetapi dengan menambah cahaya agar tangkai menjadi pendek.
a)
Pengaturan & Penambahan Cahaya : Dilakukan
sampai batas tertentu dengan ketinggian tanaman yg dinginkan. Misalnya, bila
diinginkan bunga krisan bertangkai 70 cm, maka penambahan
cahaya sejak ketinggian 50-60 cm. Lampu dimatikan. Periode berikutnya beralih
ke generatif. Tangkai bunga memanjang mencapai 80 cm. Bila dipanen tangkainya
70 cm, maka tangkai bunga yg tersisa adalah 10 cm pada tanaman. Total lama
penyinaran sejak bibit ditanam sampai periode generatif antara 12-15 minggu
tergantung varietas krisan. Cara pengaturan & penambahan cahaya yaitu
dengan pola byarpet, yaitu pencahayaan malam selama 5 menit lalu dimatikan
selama 1 menit dilakukan secara berulang-ulang hingga mencapai 30 menit. Cara
lain pengaturan & penambahan cahaya adalah dengan memasang lampu TL pada
tengah malam mulai pukul 22.30-01.00.
b)
Pemupukan : Waktu pemupukan dimulai umur 1
bulan setelah tanam, kemudian diulang kontinue & periodik seminggu
sekali, & akhirnya sebulan sekali. Jenis & dosis pupuk yg diberikan
pada fase vegetatif yaitu Urea 200 gram ditambah ZA 200 gram ditambah KNO3
100 gram per m 2 luas lahan. Pada fase Generatif digunakan pupuk Urea 10 gram
ditambah TSP 10 gram ditambah KNO3 25 gram per m 2 luas lahan, cara
pemberiannya dengan disebar dalam larikan atau lubang ditugal samping kiri
& samping kanan.
c)
Pembuangan Titik Tumbuh : Waktu pembuangan
titik tumbuh adalah pada umur 10-14 hari setelah tanam, dengan cara memotes
ujung tanam sepanjang 5 cm.
d)
Penjarangan Bunga : Jika ingin mendapatkan
bunga yg besar, dalam 1 tangkai bunga hanya dibiarkan satu bakal bunga yg
tumbuh.
Teknik
Penanaman utk Bunga Pot
Sebanyak 5-7 Bibit yg telah berakar ditanam di dalam
pot yg berisi media sabut kelapa (hancur) atau campuran tanah & sekam
padi (1:1). utk memperpendek batang, pot-pot ini ditumbuhkan selama 2 minggu
dengan penyinaran 16 jam/hari. utk merangsang pembungaan, pot-pot kemudian
diberi pencahayaan pendek dengan cara menutupnya di dalam kubung dari jam
16.00-22.00. Selama pertumbuhan tanaman diberi pupuk cir multihara lengkap.
Pembungaan ini dapat pula dipacu dengan menambahkan hormon tumbuh giberelin
sebanyak 500 ppm pada saat penyinaran pendek.
Untuk mendapatkan bunga krisan yang besar & jumlahnya
sedikit, bakal bunga dari setiap batang perlu diperjarang dengan hanya
menyisakan satu kuncup bunga. Dengan cara ini akan didapatkan krisan pot
dengan 5-7 bunga yg mekar bersamaan.
|
E. PEMELIHARAAN
1.
Penjarangan
& Penyulaman : Waktu penyulaman seawal mungkin yaitu 10-15
hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit yg mati
atau layu permanen dengan bibit yg baru
2.
Penyiangan : Waktu penyiangan & penggemburan tanah
umumnya 2 minggu setelah tanam. Penyiangan dengan cangkul atau kored dengan
hati-hati membersihkan rumput-rumput liar
3.
Pengairan
& Penyiraman : Pengairan yg paling baik adalah pada pagi
atau sore hari, pengairan dilakukan kontinu 1-2 kali sehari, tergantung cuaca
atau medium tumbuh. Pengairan dilakukan dengan cara mengabutkan air atau sistem
irigasi tetes hingga tanah basah
4.
Pengendalian
hama dan penyakit
Hama
a. Ulat tanah
(Agrotis ipsilon)
Gejala: memakan
dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai terkulai.
Pengendalian:
mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida.
b. Thrips
(Thrips tabacci)
Gejala:
pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan
seperti perunggu, terutama pada permukaan bawah daun.
Pengendalian:
mengatur waktu tanam yang baik, memasang perangkap berupa lembar kertas kuning
yang mengandung perekat, misalnya IATP buatan Taiwan.
c. Tungau merah
(Tetranycus sp)
Gejala: daun
yang terserang berwarna kuning kecoklat-coklatan, terpelintir, menebal, dan
bercak-bercak kuning sampai coklat.
Pengendalian:
memotong bagian tanaman yang terserang berat dan dibakar dan penyemprotan
pestisida.
d. Penggerek
daun (Liriomyza sp) :
Gejala: daun
menggulung seperti terowongan kecil, berwarna putih keabu-abuan yang
mengelilingi permukaan daun.
Pengendalian:
memotong daun yang terserang, penggiliran tanaman, dengan aplikasi insektisida.
Penyakit
a. Karat/Rust
Penyebab:
jamur Puccinia sp. karat hitam disebakan oleh cendawan P chrysantemi, karat
putih disebabkan oleh P horiana P.Henn.
Gejala: pada
sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat/hitam dan terjadi lekukan-lekukan
mendalam yang berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Bila serangan
hebat meyebabkan terhambatnya pertumbuhan bunga.
Pengendalian:
menanam bibit yang tahan hama dan penyakit, perompesan daun yang sakit,
memperlebar jarak tanam dan penyemprotan insektisida.
b. Tepung
oidium
Penyebab:
jamur Oidium chrysatheemi.
Gejala:
permukaan daun tertutup dengan lapisan tepung putih. Pada serangan hebat daun
pucat dan mengering.
Pengendalian:
memotong/memangkas daun tanaman yang sakit dan penyemprotan fungisida.
c. Virus kerdil
dan mozaik
Penyebab:
virus kerdil krisan, Chrysanhenumum stunt Virus dan Virus Mozaoik Lunak Krisan
(Chrysanthemum Mild Mosaic Virus).
Gejala:
tanaman tumbuhnya kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal
daripada tanaman sehat, warna bunganya menjadi pucat.
Penyakit
kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja
kebun.
Virus mosaik
menyebabkan daun belang hijau dan kuning, kadang-kadang bergaris-garis.
Pengendalian:
menggunakan bibit bebas virus, mencabut tanaman yang sakit, menggunakan
alat-alat pertanian yang bersih dan penyemprotan insektisida untuk pengendalian
vektor virus
DAFTAR
PUSTAKA
http://new.litbang.deptan.go.id/download/179/file/Teknologi-Budidaya-Bunga-K.pdf
http://teknologi--tepat-guna.blogspot.com/2013/05/cara-menanam-bunga-krisan.html






0 komentar:
Posting Komentar