AGROKLIMATOLOGI
SEJARAH
Klimatologi
(Klima: zona/wilayah dan logos: diskusi/ilmu) Ilmu iklim, Ilmu yang memerikan
dan menjelaskan fenomena iklim dengan perbedaan karakter dari
satu
tempat dengan tempat lain . Hubungan unsur iklim dengan lingkungan secara
umum
dan manfaat bagi manusia
•
Shen Kuo (1031-1095) Orang pertama yang mengemukakan teori perubahan iklim
berdasar pengamatan bambu yang membatu.
•
Edmun Halley (1886) Orang pertama (berdasar penelitian) membuat peta angin.
•
Benjamin Franklin (abad 18) Orang pertama membuat peta iklim.
•
Francis Galton Orang yang memperkenalkan istilah anticyclone.
•
Helmut Landsberg Orang yang memperkenalkan istilah klimatologi. Secara pribadi
→ pengamatan cuaca.
Diambil
alih oleh pemerintah Hindia Belanda Magnetisch en Meteorologisch Observatorium
Dr. Bergsma pengamat diatas diangkat sebagai kepala Pemerintah Jepang
(1942-1945) Kisho Kauso Kusho (kantor Meteorologi Geofisika) Pemerintah
Indonesia (1945).
Kantor
tsb dibagi menjadi:
•
Biro Meteorologi dibawah AURI (militer)
•
Jawatan Meteorologi & Geofisika dibawah Kementerian PU & Tenaga (sipil)
Belanda
kembali (1947) Mengubah menjadi:
Meteorologisch
en Geofisiche dienst. Bagian yang dikuasai Indonesia: Lembaga Meteorologi &
Geofisika (LMG) 1950 menjadi anggota World Meteorological Organization (WMO)
1955 LMG dibawah Dept. Perhubungan. Kemudian diubah menjadi Direktorat
Meteorologi & Geofisika 1972 menjadi Pusat Meteorologi & Geofisika 1980
menjadi Badan Meteorologi & Geofisika 2002 menjadi lembaga non Departemen.
2008 diubah menjadi Badan Meteorologi, Klimatologi, &
Geofisika
(BMKG). Terdapat 5 Balai Besar yaitu terdapat di Medan, Ciputat (Jakarta),
Denpasar, Makassar, dan Jayapura.
Agroklimatologi berasal dari
kata agro dan klimatologi. Agro merupakan tanaman, sedangkan klimatologi adalah
ikim. Jadi, agroklimatologi adalah ilmu yang membahas berbagai macam iklim yang
berhubungan dengan permasalahan perrtanian.
Agroklimatologi adalah ilmu iklim
yang mempelajari tentang hubungan antara unsur-unsur iklim dengan proses
kehidupan tanaman. Yang dipelajari diagroklimatologi adalah bagaimana
unsur-unsur iklim itu berperan di dalam kehidupan tanman. Kita akan mempelajari
bagaimana agar fotosintesis bisa tinggi, respirasi optimal, transpirasi normal,
sehingga hasil bisa tinggi. Arah dari ilmu ini adalah bagaimana fotosistesis
bisa lebih tinggi dari respirasi yang dipengaruhi unsur udara dan air.
Agroklimatologi adalah ilmu iklim
yang mempelajari tentang hubungan antara unsur-unsur iklim dengan proses
kehidupan tanaman. Kita akan mempelajari bagaimana agar fotosintesis bisa
tinggi, respirasi optimal, transpirasi normal, sehingga hasil bisa tinggi. Arah
dari ilmu ini adalah bagaimana fotosintesis bisa lebih tinggi dari respirasi
yang dipengaruhi unsur udara dan air. Kisaran agroklimatologi seperti Radiasi,
Suhu, Kelembaban, Udara, Angin, Awan, Hujan dan Gas.
Agroklimatologi (agro: tanaman,
klimatologi: ilmu iklim) ilmu yang membahas berbagai aspek iklim yang
berhubungan dengan permasalahan pertanian. Iklim yaitu karakter, sintesis atau nilai statistik cuaca
jangka panjang di suatu tempat atau wilayah misalnya iklim: tropik, subtropik,
basah, kering. Cuaca kondisi atmosfer sesaat (jangka pendek) beserta perubahan
yang terjadi. Iklim dibagi menjadi iklim makro dan iklim mikro. Iklim mikro
kondisi cuaca dalam lingkungan atmosfer terbatas sebatas lingkungan tanaman
atau di sekitar permukaan tanah. Meteorologi ilmu yang memperlajari proses
fisik bagaimana cuaca terbentuk permukaan tanah.
Pembagian
Klimatologi:
Klimatologi
fisik adalah klimatologi yang menjelaskan iklim berdasar faktor fisik (dalil
dan rumus), kemudian dipresentasikan (klimatografi)
Klimatologi terapan yaitu analisis data iklim
untuk digunakan secara operasional. Meliputi agroklimatologi, klimatologi
penerbangan, bioklimatologi, klimatologi industri, dll
KEPENTINGAN
AGROKLIMATOLOGI
•
Cuaca/iklim menentukan pertumbuhan, perkembangan, produksi tanaman, panen dan
pasca panen
•
Manusia belum dapat melakukan modifikasi iklim dalam skala makro
MANFAAT
AGROKLIMATOLOGI
1.
Untuk mengetahui pengaruh apa saja yang menpengaruhui dalam bidang pertanian.
2.
Untuk mengetahui bagaimana unsur-unsur iklim itu berperan dalam kehidupan
tanaman.
3.
Untuk memahami bagaimana iklim menpengaruhi hama tanaman.
4.
Kita bisa merencanakan kapan waktu yang tepat untuk melakukan proses
pembudidayaan tanaman, misalnya menentukan jadwal pemupukan, jadwal
penyemprotan.
5.
Untuk mengetahui dan menpelajari tentang cuaca dan iklim dan sebagainya.
6.
Kita bisa mengetahui kapan tanaman tersebut melakukan stadia tumbuhnya.
7.
Kita bisa mengetahui umur dari suatu tanaman.
8.
Untuk merancang pola tanam yang baik.
9.
Untuk mengetahui hubungan antara unsur-unsur iklim dengan proses pertumbuhan
tanaman.
10.
Untuk mengetahui penjadwalan tanam & panen budidaya pertaniaan.
11.
Penentuan jenis tanaman untuk wilayah yang akan ditanam dan sebaliknya.
12.
Untuk mengupayakan peningkatan produksi panen.
13.
Untuk menghindari kegagalan dalam panen.
UNSUR
DAN PENGENDALI CUACA/IKLIM
Unsur
Cuaca/Iklim
1.
Radiasi surya
2.
Suhu udara
3.
Tekanan udara
4.
Angin
5.
Kelembaban udara
6.
Awan
7.
Presipitasi (hujan)
8.
Evapotranspirasi
Pengendali
Cuaca/Iklim
1.
Rotasi dan Revolusi Bumi
2.
Letak lintang (latitud)
3.
Tinggi tempat (elevasi/altitud)
4.
Topografi
5.
Pusat tekanan tinggi dan rendah
6.
Posisi terhadap lautan
7.
Gerakan massa udara regional
8.
Arus lautan
Klimatologi merupakan ilmu tentang
atmosfer. Mirip dengan meteorologi, tapi berbeda dalam kajiannya, meteorologi
lebih mengkaji proses di atmosfer sedangkan klimatologi pada hasil akhir dari
proses2 atmosfer.
Klimatologi berasal dari bahasa
Yunani Klima dan Logos yang masing2 berarti kemiringan (slope) yg di arahkan ke
Lintang tempat sedangkan Logos sendiri berarti Ilmu. Jadi definisi Klimatologi
adalah ilmu yang mencari gambaran dan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di
berbagai tempat di bumi berbeda , dan bagaimana kaitan antara iklim dan dengan
aktivitas manusia. Karena klimatologi memerlukan interpretasi dari data2 yang
banyak dehingga memerlukan statistik dalam pengerjaannya, orang2 sering juga
mengatakan klimatologi sebagai meteorologi statistik
Menurut
Bayong (2004), Klimatologi dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu klimatologi
fisis, klimatologi kedaerahan (regional). Klimatologi fisis mempelajari sebab
terjadinya ragam pertukaran panas, pertukaran air dan gerakan udara terhadap
waktu dan tempat, sehingga di muka bumi ini terdapat iklim yang berbeda.
Klimatologi kedaerahan bertujuan memberikan gambaran (deskripsi) iklim dunia
yang meliputi sifat dan jenis iklim, sedangkan klimatologi terapan mencari
hubungan klimatologi dengan ilmu lain, misalnya:agroklimatologi (penerapan
klimatologi dalam bidang pertanian).
Agroklimatologi merupakan ilmu yang
mempelajari teknik budidaya tanaman dan iklim untuk pertumbuhan, perkembangan
dan hasil. Klimatologi sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu Klima dan Logos
yang masing-masing berarti kemiringan (slope) yang di arahkan ke Lintang tempat
sedangkan Logos sendiri berarti Ilmu. Iklim merupakan salah satu faktor
pembatas dalam proses pertumbuhan dan produksi tanaman. Oleh karena itu kajian
klimatologi dalam bidang pertanian sangat diperlukan.
Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata
dalam jangka waktu yang lebih lama. yang mana gejala dan peristiwa itu berulang
dari tahun ke tahun. Manfaat iklim adalah untuk menentukan letak geografis bumi
dan untuk mengetahui gejala dan peristiwa cuaca yang terjadi disuatutempat
dalam kurun waktu setahun. Iklim sangat menentukan dalam pendapatan produksi
yang akan diperoleh petani. Dari iklim petani bisa menentukan jenis tanaman apa
yang cocok untuk ditanam di daerahnya, penentuan kapan waktu tanam dan juga
panen serta lainnya.
Cuaca adalah sebuah aktifitas fenomena atau keadaan atmosfer dalam waktu beberapa hari. Manfaat cuaca adalah untuk menyeimbangkan suhu dan kelembaban yang berada antara satu tempat dengan tempat lainnya. Perbedaan ini terjadi karena sudut pemanasan matahari yang berbeda-beda disetiap tempat karena perbedaan lintang bumi. Unsur cuaca yang diamati dalam agroklimatologi meliputi radiasi matahari, suhu,kelembaban nisbi udara, tekanan udara, evaporasi, curah hujan, angin dan awan. Sedangkan unsur organime pertanian yang diamati tergantung pada tujuan penelitian pertanian seperti fase pertumbuhan tanaman, produksi tanaman, serangan hama hama penyakit dan lain sebagainya. Dalam Agroklimatologi salah satu hal yang akan kita pelajari dan penting untuk diketahui adalah Unsur-unsur Iklim dan Faktor-faktor Pengendali Iklim. Unsur-unsur iklim dan pengendali iklim sangat penting untuk dipelajari karena iklim merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam dunia pertanian. Iklim dapat mempengaruhi hasil produksi pertanian baik itu dari segi kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas. Iklim merupakan faktor pembatas dalam pertanian, secara mikro iklim bisa di modifikasi namunsecara makro iklim sangant sulit sekali untuk di modofikasi. Menghadapi hal yang demikian tentunya para petani berfikir bagaimana faktor iklim ini bisa membantu para petani agar tidak gagal panen.
Cuaca adalah sebuah aktifitas fenomena atau keadaan atmosfer dalam waktu beberapa hari. Manfaat cuaca adalah untuk menyeimbangkan suhu dan kelembaban yang berada antara satu tempat dengan tempat lainnya. Perbedaan ini terjadi karena sudut pemanasan matahari yang berbeda-beda disetiap tempat karena perbedaan lintang bumi. Unsur cuaca yang diamati dalam agroklimatologi meliputi radiasi matahari, suhu,kelembaban nisbi udara, tekanan udara, evaporasi, curah hujan, angin dan awan. Sedangkan unsur organime pertanian yang diamati tergantung pada tujuan penelitian pertanian seperti fase pertumbuhan tanaman, produksi tanaman, serangan hama hama penyakit dan lain sebagainya. Dalam Agroklimatologi salah satu hal yang akan kita pelajari dan penting untuk diketahui adalah Unsur-unsur Iklim dan Faktor-faktor Pengendali Iklim. Unsur-unsur iklim dan pengendali iklim sangat penting untuk dipelajari karena iklim merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam dunia pertanian. Iklim dapat mempengaruhi hasil produksi pertanian baik itu dari segi kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas. Iklim merupakan faktor pembatas dalam pertanian, secara mikro iklim bisa di modifikasi namunsecara makro iklim sangant sulit sekali untuk di modofikasi. Menghadapi hal yang demikian tentunya para petani berfikir bagaimana faktor iklim ini bisa membantu para petani agar tidak gagal panen.
Mengetahui Pengaruh Iklim
Terhadap Hama Penyakit Tanaman yang terdapat di Indonesiadi satu pihak
sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sedangkan di pihak lain
unsur iklim juga dapat menyebabkan kurangnya unsur hara dan zat makanan yang
tersedia dalam tanah melalui proses pengangkutan dan penghanyutan.
Hasil suatu jenis tanaman bergantung
pada interaksi antara faktor genetis dan faktor lingkungan seperti jenis tanah,
topografi, pengelolaan, pola iklim dan teknologi. Dari faktor lingkungan, maka
faktor tanah merupakan modal utama. Keadaan tanah sangat dipengaruhi oleh
unsur-unsur iklim, yaitu hujan, suhu dan kelembaban. Pengaruh itu kadang
menguntungkan tapi tidak jarang pula merugikan
Cuaca dapat didefenisikan sebagai
keadaan rata-rata udara pada saat waktu tertentu dan di wilayah tertentu yang
relatif sempit dan pada jangka waktu yang singkat (biasanya hitungan per jam
atau hari). Cuaca terbentuk dari gabungan beberapa unsur - unsur cuaca. Jangka
waktu cuaca bisa hanya beberapa jam saja dan bisa dalam hari. Misalnya: pagi
hari, siang hari atau sore hari, dan keadaannya bisa berbeda - beda untuk
setiap area dan setiap jamnya.
Iklim
memiliki jangkauan daerah yang lebih besar dan waktu yang lebih lama, dan
umumnya bersifat stagnan (tiak berubah) dari waktu ke waktu. Iklim dapat
didefenisikan sebagai suatu keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu tahun yang
penyelidikannya dilakukan dalam waktu yang lama (minimal 30 tahun) dan meliputi
wilayah yang luas (negara, pulau, atau benua).
Sebagai
contoh pada hari Senin, langit di Pontianak tampak begitu gelap, banyak
awan serta angin yang bertiup terasa dingin, seperti membawa uap air. Selang
beberapa waktu kemudian hujan turun dengan lebat. Pada saat yang bersamaan di
Yogyakarta, langit begitu cerah sehingga matahari bersinar dengan intensitas
yang kuat dan udara terasa panas.
Dari
contoh diatas dapat dikatakan bahwa pada hari Senin cuaca antara Pontianak dan
Yogyakarta berbeda. Yogyakarta dan Pontianak merupakan dua kota yang
terdapat di wilayah Indonesia. Keduanya memiliki iklim yang sama, yaitu iklim
tropis. Dengan iklim tropis, wilayah Indonesia sepanjang tahun terkena sinar
matahari. Berbeda dengan daerah kutub yang beriklim dingin, sinar matahari
selama setahun tidak selamanya menyinari daerah tersebut.
Manfaat Mempelajari Cuaca dan Iklim
1.
Menyelenggarakan kegiatan atau usaha dibidang teknik, sosial, ekonomi dengan
menerapkan teknologi.
2.
Menyesuaikan diri untuk menyelenggarakan kegiatan usaha yang serasi dengan
sifat cuaca dan iklim sehingga terhindar dari hambatan dan kerugian
Faktor iklim yang paling berpengaruh
terhadap tanah adalah hujan. Air hujan akan mengikis bagian top soil tanah yang
merupakan bagian tanah yang subur. Apabila bagian top soil
dibiarkan terkikis terus menerus, maka lapisan ini akan hilang dan yang
tampak adalah lapisan bagian bawahnya, yang dikenal denga sub soil. Sub soil
ini merupakan lapisan di bawahnya yang kurang subur, masih mentah, di mana
mikroorganismenya sudah hilang sehingga diperlukan perbaikan-perbaikan yang
memakan waktu cukup lama untuk menjadi produktif kembali (antara 2-5 tahun).
Di Indonesia, perhatian dan
kerjasama antara para ahli klimatologi dengan ahli pertanian semakin meningkat
terutama dalam rangka menunjang produksi tanaman pangan. Daya hasil beberapa
tanama pangan di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara
maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. Perbedaan ini disebabkan oleh
pemakaian teknologi tinggi dan pengelolan yang baik. Penigkatan produksi
tanaman pangan selain dengan panca usaha tani juga dilakukan dengan pemanfaatan
iklim.
Namun sekarang
penyimpangan-penyimpangan terhadap iklim sering terjadi. Pengalaman menunjukkan
bahwa secara temporer berbagai bentuk penyimpangan iklim telah sering mengancam
sistem produksi pertanian. Ancaman tersebut tidak saja menyebabkan
gangguan produksi, tetapi juga menggagalkan panen dalam luasan ratusan ribu
hektar. Peristiwa kekeringan tahun 1994 dan 1997 merupakan yang terburuk selama
abad 20. Luas areal pertanian di Indonesia yang mengalami kekeringan mencapai
161.144 sampai 147.126 ha yang mengakibatkan penurunan produksi beras nasional
secara signifikan dan pemerintah kembali harus mengimpor beras sekitar 5 juta
ton. Kerawanan sosial sebagai dampak lanjutan dari kekeringan ini akan
semakin memberatkan manakala periode ulang El Nino meningkat menjadi 2-3 tahun
satu kali.
Di dalam 18 dari 28 tahun panenan
(1955-1982), banjir atau kemarau panjang merupakan penyebab utama dari
kegagalan panen di Indonesia (Baradas, 1984). Langkah-langkah yang lazim
diambil untuk mengatasi masalah ini adalah dengan merangsang hujan, meramal
hujan atau memperbaiki jenis-jenis tanaman. Tetapi pada musim kemarau
pembentukan awan sangat sedikit dan massa udara kering, sehingga sulit untuk
dilakukan hujan buatan. Sedangkan ramalan hujan hanya memberikan informasi
mengenai waktu terjadinya hujan, padahal tumbuhan memerlukan air dengan jumlah
dan saat yang tepat. Jenis padi yang tahan banjir dan kemaraupun hanya tidak
dapat memberikan hasil yang besar dan itupun kalau banjir tidak menghanyutkan
atau kemaru tidak membuatnya kering.
1. Radiasi
Surya
Radiasi
matahari merupakan unsur yang sangat penting dalam bidang pertanian. Pertama,
cahaya merupakan sumber energi bagi tanaman hijau yang memalui proses
fotosintesa diubah menjadi tenaga kimia. Kedua, radiasi memegang peranan
penting sebagai sumber energi dalam proses evaporasi yang menentukan kebutuhan
air tanaman (Wisnubroto, 2005).
Distribusi radiasi surya yang tidak merata di muka bumi adalah penyebab utama timbulnya cuaca dan iklim. Tidak saja distribusi energi surya itu yang mengandalkan iklim, tetapi energi surya itu sendiri merupakan suatu unsur vital iklim. Energi itu secara langsung bertanggung jawab atas berlangsungnya proses fotosintesis; periode siang dan malam yang panjangnya bervariasi mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan tanaman. Energi surya juga penting pengaruhnya dalam evapotranspirasi (pelepasan air) dan terhadap jumlah kebutuhan tanaman akan air (Trewartha dan Horn, 1999).
Distribusi radiasi surya yang tidak merata di muka bumi adalah penyebab utama timbulnya cuaca dan iklim. Tidak saja distribusi energi surya itu yang mengandalkan iklim, tetapi energi surya itu sendiri merupakan suatu unsur vital iklim. Energi itu secara langsung bertanggung jawab atas berlangsungnya proses fotosintesis; periode siang dan malam yang panjangnya bervariasi mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan tanaman. Energi surya juga penting pengaruhnya dalam evapotranspirasi (pelepasan air) dan terhadap jumlah kebutuhan tanaman akan air (Trewartha dan Horn, 1999).
Taiz dan Zeiger (1991) menyatakan distribusi spektrum cahaya matahari yang diterima oleh daun di permukaan tajuk (1900 umol m-2s-1) lebih besar dibanding dengan daun di bawah naungan (17.7 umol m-2s-1). Pada kondisi ternaungi cahaya yang dapat dimanfaatkan untuk proses fotosintesis sangat sedikit. Cruz (1997) menyatakan naungan dapat mengurangi enzim fotosintetik yang berfungsi sebagai katalisator dalam fiksasi CO2 dan menurunkan titik kompensasi cahaya. Lama penyinaran akan berpengaruh terhadap aktivitas makhluk hidup misalnya pada manusia dan hewan. Juga akan berpengaruh pada metabolisme yang berlangsung pada tubuh makhluk hidup, misalnya pada tumbuhan. Penyinaran yang lebih lama akan memberi kesempatan yang lebih besar bagi tumbuha tersebut untuk memanfaatkanya melalui proses fotosintesis ( Benyamin Lakitan, 1994 ).
Radiasi
surya terdiri dari spectra ultraviolet (panjang gelombang kurang dari 0.38
mikron) yang berpengaruh merusak karena daya bakarnya sangat tinggi, spectra
Photosynthetically Active Radiation (PAR) yang berperan membangkitan proses
fotosintesis dan spectra inframerah (lebih dari 0.74 mikron) yang merupakan
pengatur suhu udara . spectra radiasi PAR dapat dirinci lebih lanjut menjadi
pita-pita spectrum yang masing-masing memiliki karakteristik tertentu. Ternyata
spectrum biru memberikan sumbangan yang paling potensial dalam fotosintesis
(Koesmaryono, 1999 ).
2. Tekanan Udara
Udara
yang mengembang menghasilkan tekanan udara yang lebih rendah. Sebaliknya, udara
yang berat menghasilkan tekanan yang lebih tinggi. Angin bertiup dari tempat
yang bertekanan tinggi menuju ke tempat yang bertekanan rendah. Semakin besar
perbedaan tekanan udaranya, semakin besar pula angin yang bertiup. Rotasi bumi
membuat angin tidak bertiup lurus. Rotasi bumi menghasilkan coriolis force yang
membuat angin berbelok arah. Di belahan bumi utara, angin berbelok ke kanan,
sedangkan di belahan bumi selatan angin berbelok ke kiri. Untuk keperluan ilmu
pengetahuan, khususnya mengenai Metereologi dan Geofisika diperlukan suatu alat
yang dapat mengukur kecepatan angin dan mengukur tekanan udara. Alat tersebut
sudah ada. Alat untuk mengukur kecepatan angin disebut anemometer dan alat
untuk mengukur tekanan udara disebut barometer (Marthen, 2002).
Tekanan
udara merupakan tenaga yang bekerja untuk menggerakkan massa udara dalam setiap
satuan luas tertentu. Di ukur dengan menggunakan barometer. Garis-garis yang
menghubungkan tempat yang sama tekanan udaranya disebut isobar (Hendi, 2010).
Daerah yang memiliki tekanan atmosfer terbesar adalah di permukaan laut yaitu
sekitar 1.013,2 mb. Tekanan atmosfer akan berkurang terhadap ketinggian. Sehingga
tekanan atmosfer di pantai akan lebih besar dibandingka dengan di daerah
pegunugan (Heri, 2009).
Makin
tinggi tempat dari permukaan air laut (latitude) maka tekanan udara makin
menurun. Hal ini disebabkan karena gradien tekanan udara vertikal (gradient
vertikal). Gradien vertikal ini tidak selalu tetap, sebab kerapatan udara
dipengaruhi oleh faktor : suhu kadar uap air di udara dan gravitasi (Wuryatno,
2000).
2. Suhu
Tanah dan Suhu Udara
Temperatur
(suhu) adalah salah satu sifat tanah yang sangat penting secara langsung
mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan juga terhadap kelembapan, aerasi, stuktur,
aktifitas mikroba, dan enzimetik, dekomposisi serasah atau sisa tanaman dan
ketersidian hara-hara tanaman. Tenperatur tanah merupakan salah satu faktor tumbuh
tanaman yang penting sebagaimana halnya air, udara dan unsur hara. Proses
kehidupan bebijian, akar tanaman dan mikroba tanah secara langsung dipengaruhi
oleh temperatur tanah (Hanafiah, Kemas Ali, 2005).
Di
bidang pertanian suhu udara yang perlu diketahui adalah suhu udara pada
ketinggian rendah dan umumnya mengacu pada temperatur yang diukur diruangan
atau sangkar cuaca yang dipasang pada ketinggian 1,5 – 2,0 meter. Suhu
seringkali juga diartikan sebagai energi kinetis rata-rata suatu benda. Satuan untuk
suhu adalah derajat suhu yang umumnya dinyatakan dengan satuan derajat Celsius
(°C) disamping tiga sistem skala lain, yaitu satuan Fahrenheit (F), satuan
Reamur (R), dan satuan Kelvin (K). Sistem Kelvin memiliki sistem skala yang
samadengan skala Celcius, tetapi berbeda pada dasar titik nolnya. Titik nol
derajat Kelvin berada pada 273 skala dibawah nol derajat Celsius, sehingga:
satuanderajat Kelvin = satuan derajat Celsius – 273 , atau t°K = t°FC– 273
Dalam skala Celsius, titik beku air adalah 0°C dan titik didihnya adalah 100°C,
sedangkan pada skala Fahrenheit, titik beku air adaalah 32°F dan titik didihnya
sama dengan 212°F, sehingga : t°C = 5/9 ( t°F – 32) (Gunawan Nawawi, Ir., MS,
2007).
Suhu tanah mengalami perubahan dari
pengembunan secara terus menerus pada kedalaman yang dangkal di banyak tanah di
daerah Alaska yang beku sampai ke Hawai yang tropis, dimanapun jarang ditemukan
suhu tanah dapat mencapai 100o F (37,8o C) pada hari yang panas sekalipun. Pada
kebanyakan permukaan bumi, suhu tanah harian jarang mengalami perubahan pada
kedalaman 20 inchi (51 cm). tapi dibawah kedalaman tersebut suhu tanah akan
mengalami perubahan yang secara lambat menunjukkan pertambahan derajat suhu
sekitar 2o F (Donahue dkk, 1977).
Suhu
tanah yang rendah dapat mempengaruhi penyerapan air dari pertumbuhan tumbuhan.
Jika suhu tanah rendah, kecil kemungkinan terjadi transpirasi, dan dapat
mengakibatkan tumbuhan mengalami dehidrasi atau kekurangan air. Pengaruh dari
suhu tanah pada proses penyerapan bisa dilihat dari hasil perubahan viskositas
air, kemampuan menyerap dari membran sel, dan aktivitas fisiologi dari sel-sel
akar itu sendiri. Dengan kata lain pada keadaan udara yang panas maka evaporasi
air dari permukaan tanah akan semakin besar (Tisdale and Nelson, 1966).
Suhu
dinyatakan sebagai derajat panas atau dingin yang diukur berdasarkan Skala
tertentu dengan menggunakan termometer. Satuan Suhu yang biasa digunakan adalah
derajat celcius, sedangkan di Inggris dan dibeberapa negara lainnya dinyatakan
dengan derajat farenheit. Tanah merupakan media utama dimana manusia bisa
mendapatkan lahan pangan, sandang, pangan, tambang dan tempat dilaksanakannya
beberapa aktifitas (Sunaryo, 1998).
4.
Kelembaban Tanah dan Udara
Kondisi iklim mikro
bergantung pada beberapa faktor seperti suhu, kelembaban udara, angin,
penguapan, dll. Tipe tanah yang ada juga mempengaruhi iklim mikro.
Karakteristik permukaan tanah juga penting, tanah dengan warna yang lebih
terang lebih memantulkan dan kurang merespon terhadap pemanasan harian. Hal
lain yang berpengaruh terhadap iklim mikro adalah kemampuan tanah untuk
menyerap atau mempertahankan uap air, yang bergantung pada komposisi tanah dan
penggunaannya. Keberadaan vegetasi juga berperan penting untuk mengontrol
penguapan air ke udara melalui proses transpirasi. Vegetasi atau tumbuhan bisa
juga menutupi tanah di bawahnya dan mempengaruhi perbedaan suhu (Anonima,
2010).
Tanaman atau vegetasi
secara langsung memberikan pengaruh kepada kondisi iklim mikro yang ada melalui
modifikasi radiasi matahari dan suhu tanah. Keberadaan tanaman juga
mempengaruhi tingkat evapotranspirasi (Villegas et al., 2010).
Kelembaban
udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai
kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit tekanan uap air.
Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air (dapat dinyatakan dengan massa uap
air atau tekanannya) per satuan volume. Kelembaban nisbi membandingkan antara
kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya atau pada kapasitas
udara untuk menampung uap air. Kapasitas udara untuk menampung uap air tersebut
(pada keadaan jenuh) ditentukan oleh suhu udara. Sedangkan defisit tekanan uap
air adalah selisih antara tekanan uap jenuh dan tekanan uap aktual.
Masing-masing pernyataan kelembaban udara tersebut mempunyai arti dan fungsi
tertentu dikaitkan dengan masalah yang dibahas (Handoko, 1994).
Kelembaban
adalah jumlah uap air yang terkandung dalam udara. Istilah kelembaban biasanya
digunakan dalam kehidupan sehari-hari berupa kelembaban relatif (Buck et. al,
1970). Data klimatologi untuk kelembaban udara yang umum dilaporkan adalah
kelembaban relatif (relative humidity, disingkat RH). Kelembaban relatif adalah perbandingan antara tekanan uap
air aktual (yang terukur) dengan tekanan uap air pada kondisi jenuh. Rumus
untuk menentukan relative humidity (RH) adalah sbb (Buck et. al, 1970).
Keadaan
kelembaban diatas permukaan bumi berbeda-beda. Pada umumnya, kelembapan
tertinggi ada di khatulistiwa sedangkan terendah ada pada lintang 40o daerah
rendah ini disebut horse latitude, curah hujanya keci (Kartasapoetra, 2004).
Kelembaban
udara dalam ruang tertutup dapat diatur sesuai dengan keinginan. Pengaturan
kelembaban udara ini didasarkan atas prinsip kesetaraan potensiair antara udara
dengan larutan atau dengan bahan padat tertentu. Jika ke dalam suatu ruang
tertutup dimasukkan larutan, maka air dari larutan tersebut akan menguap sampai
terjadi keseimbangan antara potensi air pada udara dengan potensi air larutan.
Demikian pula halnya jika hidrat kristal garam-garam (salt cristal bydrate)
tertentu dimasukkan dalam ruang tertutup makaair dari hidrat kristal garam akan
menguap sampai terjadi keseimbangan potensi air (Lakitan, 1994).
5.
Curah Hujan
Curah hujan yaitu jumlah
air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Alat untuk
mengukur banyaknya curah hujan disebut Rain gauge. Curah hujan diukur dalam
harian, bulanan, dan tahunan. Curah hujan yang jatuh di wilayah Indonesia
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah bentuk medan/topografi,
arah lereng medan, arah angin yang sejajar dengan garis pantai dan jarak
perjalanan angina diatas medan datar. Hujan merupakan peristiwa sampainya air
dalam bentuk cair maupun padat yang dicurahkan dari atmosfer ke permukaan bumi
(Handoko, 2003).
Hujan
adalah kebasahan yang jatuh ke bumi dalam bentuk cair. Butir-butir hujan
mempunyai garis tengah 0,08 – 6 mm. Hujan terdapat dalam beberapa macam yaitu
hujan halus, hujan rintik-rintik dan hujan lebat. Perbedaan terutama pada
besarnya butir-butir. Hujan lebat biasanya turun sebentar saja jatuh dari awan
cumulonimbus. Hujan semacam ini dapat amat kuat dengan intensitas yang besar
(Karim,1985).
Hujan terjadi dari adanya udara lembab yang esensial. Jika udara terlalu kering, hujan dapat jatuh dari awan dan tidak pernah menjangkau tanah. Jejak hujan yang kelihatan tidak menjangkau tanah itu disebut virga. Asumsi bahwa suatu massa udara lembab, ada empat penyebab utama timbulnya hujan. Semua penyebab ini mempunyai ini mempunyai pengaruh bagaimana membuat udara yang hangat naik. Pada kenaikan tekanan yang lebih rendah bergerak ke arah yang lebih luas dan kehilangan panas, resultan yang mendingin berarti lebih sedikit embun yang dapat ditahan dan hujan terjadi (Griffiths, 1976).
Hujan terjadi dari adanya udara lembab yang esensial. Jika udara terlalu kering, hujan dapat jatuh dari awan dan tidak pernah menjangkau tanah. Jejak hujan yang kelihatan tidak menjangkau tanah itu disebut virga. Asumsi bahwa suatu massa udara lembab, ada empat penyebab utama timbulnya hujan. Semua penyebab ini mempunyai ini mempunyai pengaruh bagaimana membuat udara yang hangat naik. Pada kenaikan tekanan yang lebih rendah bergerak ke arah yang lebih luas dan kehilangan panas, resultan yang mendingin berarti lebih sedikit embun yang dapat ditahan dan hujan terjadi (Griffiths, 1976).
Jumlah
curah hujan tidak menunjukkan informasi yang dibutuhkan untuk mengukur
pengikisan dari badai hujan. Kekuatan yang digunakan di permukaan tanah dengan
setiap tetesan air hujan dapat diperlihatkan dengan kekuatan yang meliputi
badai hujan. Untuk menghitung nilai ini, informasi yang harus tersedia adalah
besar dan lamanya hujan badai, ukuran dan kecepatan pada tiap tetesan hujan dan
penyaluran ukuran tiap tetes (Linder,1981).
Probabilitas
dan prakiraan data curah hujan lebih praktis mendapatkan perhatian, karena hal
ini dapat mengubah hasil panen tanaman, permintaan evaporasi dan tipe tanah.
Pada faktanya periode dengan kalkulasinya dibutuhkan untuk mengubah nilai
kritik dari curah hujan dalam suatu periode. Permasalahan yang ada seperti
ketidaktepatan dalam perubahan kalkulasi dengan jangka waktu yang pendek dan
curah hujan yang rendah (Jackson, 1984).
Cara
memprediksi kemungkinan curah hujan yaitu dengan melakukan banyak penyelidikan
mengenai distribusi curah hujan yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut
(Sosrodarsono, 1978):
a. Cara
distribusi normalCara ini digunakan untuk menyelesaikan atau menghitung
distribusi normal yang didapat dengan merubah variabel distribusi asimetris (X)
ke dalam logaritma atau ke dalam akar pangkatan.
b. Cara kurva asimetris
Cara
ini adalah cara yang langsung menggunakan kurva asimetris kemungkinan
kerapatan. Cara-cara yang digunakan adalah jenis distribusi eksponensial dan
distribusi harga ekstrim.
c.
Cara yang manggunakan kombinasi cara 1 dan cara 2.
6.
Angin
Angin adalah udara yang
bergerak dari satu tempat ketempat lainnya. Angin berhembus dikarenakan
beberapa bagian bumi mendapat lebih banyak panas matahari dibandingkan tempat
lain. Permukaan tanah yang panas mambuat suhu udara diatasnya naik. Akibatnya
udara yang naik mengembang dan menjadi lebih ringan. Karena lebih ringan
dibandingkan udara sekitarnya, udara akan naik. Begitu udara panas tadi naik,
tempatnya akan segera digantikan oleh udara sekitar terutama udara dari atas
yang lebih dingin dan berat. Proses ini terjadi terus-menerus, akibatnya kita
bisa merasakan adanya pergerakan udara atau yang disebut angin (Nasir dan
Koesmaryono, 1990).
Angin
disebabkan karena adanya perbedaan tekanan udara yang merupakan hasil dari
pengaruh ketidakseimbangan pemanasan sinar matahari terhadap tempat-tempat yang
berbeda di permukaan bumi. Keadaan ini mengakibatkan naiknya sejumlah besar
massa udara yang ditandai dengan timbulnya sifat khusus, yaitu terdapatnya
tekanan udara tinggi dan rendah. Sebagai contoh, massa udara yang bertekanan
dibentuk di daerah-daerah kutub, sedangkan massa volume yang bertekanan rendah
yang kering dan panas berkumpul di daerah subtropik. Massa udara ini tidak
tetap tinggal pada tempat di mana mereka ini dibentuk, tetapi bagitu mereka
melewati daratan menekan akan terseret oleh aliran angin yang ditimbulkan
dengan adanya perubahan dan variasi iklim setempat (Anonimb, 2008).
Anemometer
adalah alat yang digunakan untuk mengukur arah dan kecepatan angin. Satuan
meteorologi dari kecepatan angin adalah Knots (Skala Beaufort). Sedangkan
satuan meteorologi dari arah angin adalah 00 – 3600 dan arah mata angin.
Anemometer harus ditempatkandi daerah terbuka. Pada saat tertiup angin,
baling-baling yang terdapat pada anemometer akan bergerak sesuai arah angin. Di
dalam anemometer terdapat alat pencacah yang akan menghitung kecepatan angin.
Hasil yang diperoleh alat pencacah dicatat, kemudian dicocokkan dengan Skala
Beaufort. Selain menggunakan anemometer, untuk mengetahui arah mata angin, kita
dapat menggunakan bendera angin. Anak panah pada baling-baling bendera angin
akan menunjukkan ke arahmana angin bertiup. Cara lainnya dengan membuat kantong
angin dan diletakkan di tempat terbuka (Wisnubroto, 2006).
Erosi angin pada
dasarnya disebabkan pengaruh angin pada partikel-partikel yang ukurannya cocok
untuk bergerak dengan saltasi. Erosi angin dapat dikendalikan; (1) Bila
partikel-partikel tanah dapat dibentuk ke dalam kelompok/butiran yang terlalu
besar ukurannya untuk bergerak dengan saltasi, (2) Bila kecepatan angin dekat
permukaan tanah dapat dikurangi melalui penggunaan tanah, oleh tanaman
tertutup, (3) Dengan menggunakan jalur-jalur tunggul/tanaman penutup lain yang
cukup untuk menangkap dan menahan partikel-partikel yang bergerak dengan
saltasi (Foth, 1994).
7.
Evaporasi
Evaporasi merupakan
konversi air kedalam uap air. Proses ini berjalan terus hamper tanpa berhenti
disiang hari dan kerap kali mdimalam hari, perubahan dari keadaan cair menjadi
gas ini memerlukan energi berupa panas laten untuk evaporasi, proses tersebut
akan sangat aktif jika ada penyinaran matahari langsung, awan merupakan
penghalangan radiasi matahari dan penghambat proses evaporasi (Wahyuningsih,
2004).
Dari hasil-hasil evaporasi
(penguapan-penguapan air) serta transpirasi (penguapan melalui tanaman) maka
terbentuklah awan. Awan ini pada akhirnya akan mengembun (berkondensasi) dan
cenderung menimbulkan hujan (presipitasi). Dengan demikian dapatlah dikatakan
bahwa hujan itu merupakan butir-butir air (Kartasapoetra, 1993).
Perkiraan
evaporasi dan transpirasi adalah sangat penting dalam pengkajian-pengkajian
hidrometeorologi. Pengukuran langsung evaporasi maupun evapotranspirasi dari
air ataupun permukaan lahan yang besar adalah tidak mungkin pada saat ini. Akan
tetapi beberapa metode yang tidak langsung telah dikembangkan yang akan
memberikan hasil-hasil yang dapat diterima (Seyhan, 1990).
Pengukuran
air yang hilang melalui penguapan (evaporasi) perlu diukur untuk mengetahui
keadaan kesetimbangan air antara yang didapat melalui curah hujan dan air yang
hilang melalui evaporasi. Alat pengukur evaporasi yang paling banyak digunakan
sekarang adalah Panci kelas A. Evaporasi yang diukur dengan panci ini
dipengaruhi oleh radiasi surya yang datang, kelembapan udara, suhu udara dan
besarnya angin pada tempat pengukuran (Hanum, 2009).
8. Awan
Pembentukan dan
keberadaan awan tidak menjamin bahwa hujan akan terjadi. Adalah biasa kalau
suatu lapisan awan telah ada selama beberapa hari tanpa adanya hujan.
Butir-butir awan yang kecil tetap terapung dalam udara yang naik dimana
butir-butir tersebut terbentuk. Tetapi dalam keadaan yang lain, hanya
dibutuhkan waktu kurang dari 30 menit untuk terbentuknya awan dan mulainya
turunnya hujan yang lebat (Trewartha dan Horn, 1995).
Awan
terbentuk sebagai hasil pendinginan (kondensasi atau sublimasi) dari massa
udara basah yang sedang bergerak ke atas. Proses pendinginan terjadi karena
menurunnya suhu udara tersebut secara adiabatis atau mengalami pencampuran
dengan udara dingin yang sedang bergerak ke arah horisontal (adveksi).
Butir-butir debu atau kristal es yang melayang-layang di lapisan troposfer
dapat berfungsi sebagai inti-inti kondensasi dan sublimasi yang dapat
mempercepat proses pendinginan. Awan dapat terjadi dari massa udara yang sedang
naik kearah vertikal karena berbagai sebab, yaitu: pengaruh radiasi matahari
(secara konveksi) dan melalui bidang peluncuran (pengangkatan orografis atau
frontal) (Tjasyono, 2004).
Pada
umumnya awan terdiri dari butir-butir air cair yang berukuran sedemikian kecil
sehingga tidak jatuh. Namun apabila awan tersebut mencapai suatu ketinggian
dimana temperatur udaranya jauh dibawah 0 C maka butir-butir air tersebut
menjadi butir-butir es (kristal). Awan adalah penolong berharga dalam ramalan
cuaca karena memperlihatkan, perubahan apa yang sedang terjadi dalam atmosfer.
Awan itu sendiri tidak memberitahu kita terlalu banyak. Ahli cuaca harus
mengetahui bagaimana ia telah berkembang dengan berubah atau pecah pada
umumnya, kemungkinan ada hujan lebih besar kalau awan tinggi yang terpisah
menjadi tambah tebal, bertambah jumlahnya dan dasar awan lebih rendah
(Wisnubroto, 1981).
Awan
dapat terdiri dari butir-butiran, kristal-kristal es, atau kombinasi keduannya.
Bila awan demikian tipisnya hingga sinar matahari atau bulan menembusnya, awan
tersebut sering melahirkan pengaruh-pengaruh optik yang memungkinkannya dapat dibedakan antara awan
kristal es dan awan butir air (Black, 1991).
Awan
terbagi dalam 4 golongan yaitu awan tinggi, awan menangah, awan rendah, dan
awan yang membumbung keatas. Tiap golongan awan ini terbagi lagi dalam beberapa
jenis menurut ketinggian dan bentuk awan tersebut misalnya cirrus, alto
cumulus, nimbo stratus, cumulus nimbus, dan lain sebagainya. Awan merupakan
salah satu jenis hydrometer, jenis hydrometer yang lain adalah kabut, hujan
lembut, hujan merata, hujan setempat, dan salju. Jenis-jenis hujan tergantung
dari jenis-jenis awan yang merupakan sumbernya (Handoko, 1995).





